• RSS
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin

Tampilkan postingan dengan label Firman Tuhan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Firman Tuhan. Tampilkan semua postingan

Orang yang Setia Dalam Bisnis Kerajaan Allah

Posted by GBI Kudus On Rabu, Desember 22, 2010

Amsal 20:6 “Banyak orang menyebut diri baik hati, tetapi orang yang setia, siapakah menemukannya?”
Apa yang dijunjung tinggi di antara manusia merupakan suatu kekejian bagi Tuhan. Ada orang-orang yang sangat berpotensi dan terampil, namun tidak loyal, tidak bermoral dan tidak memiliki rasa tanggung jawab sama sekali. Kemampuan adalah suatu hal yang lain. Betapapun terampilnya anda dalam suatu hal, jika anda tidak setia, ketidaksetiaan itu akan ‘merusak’ kemampuan dan ketrampilan anda, karena jika anda tidak dapat dipercaya, tidak ada yang akan mempercayakan sesuatu ke dalam tangan anda. Mazmur 101:1-8 dapat disimpulkan seperti ini: ‘dicari segera sebagai karyawan: ‘ORANG YANG SETIA’. Tuhan sedang mencari orang-orang yang setia dan Ia mengikatkan diri-Nya kepada mereka, sama seperti para raja juga sedang mencari mereka. Pelayanan-pelayanan apostolic sejati sedang mencari anak-anak rohani yang setia, yang mau menyerahkan hati dan roh mereka sepenuhnya.
Dalam 2 Timotius 2:1, Paulus memerintahkan bahwa para bapa rohani harus mencari orang-orang yang setia yang sebagai akibat dari kesetiaan mereka juga akan mengajar orang-orang lain, sehingga firman yang dibagikan tidak akan hilang begitu saja. Akan tetapi, yang kita lihat di gereja adalah orang-orang yang terampil, memiliki kharisma dan kemampuan berbicara, namun tanpa sikap hati yang benar. Mereka tidak setia kepada visi dari rumah rohani mereka. Penekanan roh pada hari-hari ini adalah pada karakter. Ada beberapa hal yang kita lakukan saat ini dalam Tubuh Kristus seharusnya dapat dilakukan dari sejak lama sebelum generasi kita ada, namun orang-orang yang dipercaya untuk melakukannya menyimpang di tengah jalan; Gereja menjadi frustasi dan mencari hal-hal yang salah di tempat yang salah. Reformasi yang sejati tidak akan terjadi sebelum orang-orang yang setia muncul, itulah fondasi dari reformasi apostolik sejati; merekalah yang akan mendemonstrasikan firman dan menjalani gaya hidup kerajaan. 

Pada masa Yosia (salah satu reformis terbesar dalam Alkitab), dalam 1 Raja-raja 22:1-7, anda akan menemukan bahwa pembentukan karakter dalam diri seorang anak terjadi pada kisaran usia lima tahun dan ini didasarkan pada sejumlah faktor, seperti pengawasan yang baik dari orang tua dan doktrin-doktrin yang mempengaruhi si anak untuk menjadi individu yang lebih baik dan dapat dipercaya di masa yang akan datang.
Dalam apapun yang anda kerjakan, anda harus menunjukkan kualitas yang berbeda sehingga anda bisa sampai pada titik rohani di mana oleh kasih karunia Allah anda memiliki kuasa untuk menetapkan kebijakan, dengan kesadaran penuh bahwa dalam hidup ini anda bukan mendapatkan apa yang pantas anda dapatkan; anda hanya mendapatkan apa yang anda negosiasikan. Banyak orang yang masih terus berputar-putar di tempat ketidakhormatan, oleh karena tidak adanya elemen yang disebut kesetiaan ini dalam diri mereka. Upah dari kesetiaan bukanlah sesuatu yang seketika. Tuhan menambahkannya sedikit demi sedikit sampai anda mengalami terobosan besar yang tak dapat dijelaskan dan membuat orang-orang heran bagaimana anda bisa melakukannya. Dibutuhkan orang-orang yang membenci ketamakan dan keserakahan; bahwa pertanggung jawaban keuangan mereka kepada rumah Tuhan tidak perlu dipertanyakan lagi.

Dalam 1 Timotius 3:1-13. masalah yang ada dengan uang adalah bahwa uang melemparkan jebakan ketamakan dan kita memungutnya. Banyak kegerakan yang Tuhan lakukan telah disabotase oleh penyelewengan keuangan dan kurangnya rasa tanggungjawab. Ketika anda membuka Alkitab, anda akan menemukan dalam kehidupan beberapa orang bahwa yang membawa orang-orang tersebut ke puncak keberhasilan bukanlah keluarga di mana mereka di lahirkan atau koneksi yang mereka miliki, melainkan kesetiaan mereka. Nama teratas dalam daftar adalah kepala dari seluruh umat manusia yang bernama Abraham. Kitab Nehemia 9:1-8 menunjukkan bahwa Abraham setia di dalam hatinya, meskipun pada mulanya ia bukan seorang percaya. Jangan berharap untuk menerima berkat Abhraham jika hati anda tidak setia. Contoh lainnya adalah seorang Yusuf. Seorang budak yang disebut sebagai orang yang berhasil, bukan karena uang atau harta yang ia miliki tetapi hadirat Allah yang ada dalam hidupnya. Dari Kejadian 39:1-6 jelas sekali bahwa meskipun Yusuf miskin dalam hal materi, ia membuat banyak orang menjadi kaya oleh karena integritasnya melalui kesetiaan yang ia miliki.

Nehemia 7:1 dan 2 menggambarkan kemitraan yang didasarkan pada kesetiaan, yang nampak dalam hubungan antara Nehemia dan Hanani dan Hananya. Tanpa Hanani, Nehemia tidak akan bisa menyelesaikan pelayanannya. Hanani-lah yang memberikan laporan yang akurat tentang Yerusalem, sehingga menggerakkan Nehemia untuk datang kepada Tuhan (pasal 1). Nehemia sama sekali tidak ragu untuk menyerahkan peran kepemimpinannya kepada Hanani ketika ia pergi. Daftar para pahlawan iman yang berhasil mencapai puncak kesuksesan oleh karena kesetiaannya tidak akan sempurna tanpa nama Daniel. Bagi kita, Daniel melambangkan suatu dimensi pengurapan yang mendahulukan tujuan lebih dari segala jenis kebobrokan. Tujuan tersebut adalah fungsi dari hati yang setia terhadap apa yang telah diajarkan kepadanya dan hal-hal yang ia yakini. Daniel 6:1-4 menunjukkan bahwa jika hati anda setia, sebagai seorang budak anda akan mengepalai dan mengatur seluruh isi rumah.

Apa penyebab orang-orang yang setia langka dan menjadi sangat dibutuhkan?

1. Orang-orang yang setia menyegarkan; atmosfir yang mereka bawa dan ciptakan membawa kesegaran. Mereka membawa kesegaran dan bukan tekanan bagi orang-orang yang memperkerjakan mereka – Amsal 13:17.

2. Mereka bijaksana dan oleh karena itu mereka diberkati. Artinya, mereka diberi kuasa untuk menjadi kaya. Roh hikmat yang ada di dalam merekalah yang membuat mereka memilih yang benar dan bukan yang salah – Matius 24:45-51. mereka sama seperti anak-anak Isakhar yang memahami waktu dan masa tentang di mana gereja harus berada pada saat ini. Mereka adalah umat yang apostolik oleh karena hikmat adalah urapan yang menjadi tanda dari umat yang apostolik, yang bahkan rela menyerahkan nyawanya apapun tantangannya.

3. Orang-orang ini menunjukkan kesetiaan mereka dalam hal-hal kecil, yang pada akhirnya membawa mereka kepada hal-hal yang besar. Mereka setia dan tekun dalam hal-hal kecil – Lukas 16:10-12.

Peperangan terakhir melawan Babel dalam hidup kita, pekerjaan kita, keluarga kita, pelayanan dan gereja kita, bukan hanya akan diperangi oleh mereka yang terpanggil dan terpilih; tetapi oleh mereka yang terpanggil, terpilih dan setia. Merekalah yang disebut umat dimensi ketiga, yang tidak puas hanya dengan berada di pelataran luar tetapi terus mendesak masuk ke Ruang Maha Kudus.

Mengapa kita harus setia?
Adakah yang dapat kita pegang pada akhirnya jika kita memilih untuk tidak berkompromi?. Orang-orang yang setia bukan hanya diberkati, tetapi selama-lamanya dilingkupi oleh berkat – Amsal 28:20, bertolak belakang dengan 13:11. Selain itu, Tuhan juga membuat ikatan janji untuk menjagai orang-orang yang setia dan bahkan generasi-generasi di bawahnya – Mazmur 31:23.
Akhirnya, Tuhan akan selalu membela orang-orang yang setia. Ketika orang yang setia diserang, Tuhan akan membela orang itu habis-habisan karena itu sama saja dengan menyerang karakter Allah, karena Allah adalah SETIA.

Ingat, yang langka bukanlah pekerjaannya, tetapi orang-orang yang setia!

TIDAK ADA YANG KEBETULAN

Posted by GBI Kudus On Selasa, November 23, 2010

“Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun. Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, —yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit—,maka hal itu akan diberikan kepadanya.” (Yakobus 1:2-5)
Dalam menghadapi setiap situasi, yang kita butuhkan adalah hikmat, supaya kita dapat melihat semuanya dari sudut pandang Tuhan. Dalam hal ini, ada beberapa prinsip yang penting :

Setiap orang percaya mengalami ujian.
Seperti anak-anak sekolah, untuk dapat naik kelas, mereka harus menghadapi ulangan atau ujian. Tapi ada seorang anak Taman Kanak-kanak, ia berkata kepada ibunya :’Kalau ibu sayang sama aku, ijinkan aku tetap di TK saja, aku tidak ingin naik di SD’. Anak itu ingin tetap di TK, karena di TK ia dapat bermain-main dan tidak harus banyak belajar. Dia melihat kakaknya yang di SD harus banyak belajar dan pulang sekolahnya sampai siang hari. Kadang orang-orang percaya juga bersikap seperti itu.
Dalam doa Bapa kami, Tuhan Yesus mengajar kita untuk berdoa sebagai berikut: “Dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. (Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.)” (Matius 6:13). Sepertinya doa itu bertentangan dengan Yakobus 1:2 “Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan,” Tapi sebenarnya tidak. Dalam Matius 6:13, bukan berarti supaya kita terhindar atau tidak mengalami ujian, tapi Matius 6:13 mempunyai arti: ‘Bawa aku ke dalam posisi rohani, sehingga pencobaan tidak menjadi masalah bagiku’. Ini berbicara tentang posisi rohani, ada posisi rohani dimana pencobaan tidak menjadi masalah bagi kita. Seperti Tuhan Yesus, Ia dicobai iblis di padang gurun, tapi Ia tidak terjatuh dalam pencobaan. Ketika kita menyelaraskan pikiran kita dengan kebenaran (Firman), maka kita tidak akan jatuh karena pencobaan. Karena kita dicobai oleh keinginan (pikiran) kita sendiri, seperti Yakobus 1:14 “Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya.”

Bentuk-bentuk ujian.
Setiap pengalaman yang Allah ijinkan terjadi di dalam kita, itulah bentuk ujian, jadi tidak ada yang kebetulan.
Iblis memakai pencobaan untuk menghancurkan kita. Tapi pencobaan dipakai Tuhan untuk meningkatkan kita, karena ketika kita lulus ujian, kita akan dapat promosi.
Tuhan tidak pernah menjanjikan langit selalu cerah, tapi Ia menjanjikan penyertaanNya. Dalam setiap keadaan, anugerah kekuatanNya memampukan kita untuk dapat keluar sebagai pemenang, sehingga jalan hidup orang percaya, akan terang, semakin terang, dan kemuliaan Kristus makin menjadi nyata (Amsal 4:18).
Kita dapat meresponi segala sesuatu dengan cara yang Ilahi bila pikiran kita selaras dengan kebenaran Firman. Buat setiap Firman yang kita terima untuk membentuk ulang hidup kita.

Ujian Iman
Ujian iman, karena yang diuji adalah iman. Setiap peristiwa Tuhan ingin iman kita meningkat. Iblis mencoba merekayasa sedemikian rupa untuk menghancurkan iman kita lewat segala peristiwa.
Iman sebanding dengan pemahaman kita akan Firman. Jadikan membaca Firman dan merenungkan Firman menjadi gaya hidup kita. Mintalah Roh Kudus untuk mengajar kita sehingga kita dapat memahami Firman. Semakin kita memahami Firman, semakin kita percaya kepada Firman, semakin kuat iman kita. Penuhi pikiranmu dengan Firman – janji Tuhan! Buat setiap janji Tuhan bergeloran dalam hatimu!

Rahasia Menang.
“Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.” (Ibrani 12:1-2).
Fokuskan hidup kita kepada Yesus dan janji-janjiNya. Dalam segala keadaan, pegang teguh FirmanNya – janjiNya. Jangan terpengaruh oleh peristiwa yang terjadi, jangan goyah sedikitpun, terus pegang janjiNya. “Janji TUHAN adalah janji yang murni, bagaikan perak yang teruji, tujuh kali dimurnikan dalam dapur peleburan di tanah. Engkau, TUHAN, yang akan menepatinya,” (Mazmur 12:7-8a). Dalam menggenapi janji-janjiNya, Allah tidak bergantung pada kemampuan kita, tapi bergantung pada kemampuanNya. Adakah yang terlalu sulit untuk Allah lakukan?
Iblis mencoba sedemikian rupa agar kita membuang janji Tuhan dan percaya kepada dusta iblis. Iblis mendorong kita untuk fokus pada pencobaan, godaan dan masalah. Tetapi ketika kita fokus pada Tuhan dan janjiNya, masalah itu menjadi kecil. Ketika kita fokus pada Allah dan rencanaNya, maka segala sesuatu mendatangkan kebaikan. Jangan goyah! Maju terus! Padang Yesus dan janjiNya!.

Tujuan Ujian.
- Supaya kita tekun.
“Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.” (Yakobus 1:2-3). Tuhan ingin kita menjadi orang tekun, gigih, kuat dan tahan uji (Roma 5:3-4), bukan orang percaya yang lemah, gampang menyerah, gampang putus asa. (Baca warta tanggal 15 Juni 2008 - kwalitas hidup.)
- Sempurna.
Artinya: mengalami kepenuhan Kristus, atau karakter Kristus dinyatakan. “Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.” (Yakobus 1:4). Allah ingin: dunia melihat karakter Kristus dinyatakan oleh anak-anakNya dalam kehidupan sehari-hari.

MILIKILAH MENTALITAS SEORANG PAHLAWAN IMAN SEJATI

Posted by GBI Kudus On Selasa, November 09, 2010

Ketika Daud lari dari Saul karena Saul hendak membunuhnya sebab ia sangat cemburu kepada Daud tentang keberhasilan Daud membunuh Goliat, Daud lari ke gua Adulam. Ketika Daud di gua Adulam, ada orang-orang yang ikut bersama Daud, mereka adalah orang-orang yang dalam kesukaran, orang-orang yang dikejar-kejar tukang piutang, orang-orang yang sakit hati. Mereka menjadikan Daud pemimpin atas mereka (I Samuel 22:1-2). Walaupun semula mereka adalah orang-orang yang mempunyai banyak masalah, tapi mereka bersedia mengubahkan mentalitas yang mereka miliki sehingga akhirnya mereka bangkit sebagai para pejuang yang tangguh, mereka menjadi pahlawan-pahlawan Daud (II Samuel 23:8-29).

Diantara kita mungkin tidak ada orang yang mempunyai masalah yang sama dengan orang-orangnya Daud, atau seandainya ada sekalipun, jika kita mau bangkit dan membuang mentalitas lama – mentalitas pecundang dan mulai memiliki mentalitas seorang pahlawan iman, maka kita akan menjadi orang-orang yang Tuhan pakai di dunia ini sebagai pahlawan-pahlawan iman seperti Tuhan telah memakai Gideon, Debora, Ester, Daud, Daniel dan para pahlawan iman lainnya.

Di dalam diri kita ada potensi Ilahi yang tidak terbatas karena kehadiran Kristus dalam hati kita. Ini adalah fakta yang harus kita yakini. Apapun perasaan yang sedang terjadi atas kita, atau apapun situasi yang sedang terjadi, semuanya itu tidak merubah fakta yang mengatakan bahwa tubuh kita adalah bait Allah, ada Roh Allah yang diam di dalam kita (I Korintus 3:16). Seandainya kita tidak yakin akan fakta Ilahi ini, maka kita tidak tahan uji. ”Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman. Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu? Sebab jika tidak demikian, kamu tidak tahan uji.” (II Korintus 13:5). Jangan hidup atas perasaanmu, tapi hiduplah diatas fakta Ilahi (Firman).

Menurut kamus Webster, mentalitas memiliki arti: kemampuan untuk berpikir dan beralasan/ merencana. Untuk jemaat bisa mengembangkan mentalitas seorang pahlawan iman sejati, mereka perlu belajar mengadopsi nilai-nilai dan prinsip hidup seorang pejuang iman.


Berikut adalah beberapa nilai-nilai dasar yang harus dimiliki oleh setiap jemaat sebagai pahlawan iman sejati:

a. Sebagai pahlawan iman, hidup kita tidak ditentukan oleh apa yang bisa atau tidak bisa kita lakukan; juga tidak ditentukan oleh apa yang kita miliki atau tidak miliki saat ini. Hidup kita ditentukan oleh apa yang Surga sudah sediakan bagi kita.

b. Sebagai pahlawan iman, kita hidup dengan senantiasa meresponi tuntunan hati nurani kita yang murni; kita memiliki roh yang lembut, mudah dibentuk, mudah diajar, dan mau berubah.

c. Seorang pahlawan iman akan terus memanisfestasikan karakter Kristus dalam kehidupan sehari-hari.

d. Seorang pahlawan iman hidup dengan gairah rohani yang terus menyala-nyala.

e. Seorang pahlawan iman selalu bersedia untuk mendahului dalam menaburkan kebenaran.

f. Seorang pahlawan iman selalu hidup dengan hati yang tulus.

g. Seorang pahlawan iman memiliki roh pionir yang kuat – muncul untuk memprakarsai terjadinya perubahan yang positif di komunitasnya.

h. Seorang pahlawan iman adalah seseorang yang konsisten dengan kebenaran yang sudah ia ketahui.

i. Seorang pahlawan iman memiliki kerelaan untuk berkorban bagi Kerajaan Surga – bahkan mengorbankan apa yang sesungguhnya menjadi haknya, demi kepentingan Kerajaan Surga.


Dengan jemaat belajar menghidupi prinsip-prinsip diatas, mereka sedang terus membangun mentalitas seorang pahlawan iman sejati dalam hidupnya.

GLOBAL LEADER

Posted by GBI Kudus On Senin, November 08, 2010

         
            Global Leader (pemimpin global) adalah orang-orang percaya, hamba-hamba Tuhan yang hidupnya terhubung dengan surga dan memiliki kecenderungan hati yang tertuju kepada kebenaran dan pada saat yang sama mereka adalah orang-orang yang memiliki pengaruh, disegani dan orang-orang yang mengambil keputusan di dunia sekuler.
            Kebanyakan yang terjadi di jemaat: mereka mempunyai kehidupan rohani yang baik, tetapi di dunia pekerjaan mereka tidak berprestasi. Dan kelompok yang lain adalah mereka mempunyai kehidupan rohani yang jelek tapi unggul di dalam pekerjaan. Dua kelompok ini sama-sama tidak berdampak. Tuhan ingin unggul di dalam segala hal, rohani dan berprestasi di dunia kerja.
            “Orang-orang benar akan mewarisi negeri dan tinggal di sana senantiasa ” (Mazmur 37:29). Ini adalah janji dan rencana Tuhan. Dan rencana Tuhan tidak pernah gagal. “Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal” (Ayub 42:2).
Dari janji Tuhan di Mazmur 37:29, kita mendapat beberapa prinsip:

           
1.       Tuhan telah menetapkan orang-orang benar untuk bangkit menjadi pewaris dan pemimpin negeri.

                Inilah yang akan Tuhan lakukan: Ia akan menurunkan orang-orang fasik dan menganggkat orang-orang benar untuk menggantikannya menjadi pemimpin negeri. Tapi kita harus dapat memastikan, bahwa kita adalah orang-orang benar, yaitu orang yang hidup dalam kebenaran (firman).
            Dalam Kejadian 37: 1-11, seperti biasanya Yusuf sebagai gembala, menggembalakan kambing domba bersama saudara-saudaranya. Tapi pengalaman hidupnya berubah ketika ia mendapat Firman melalui mimpi, Allah menetapkan Yusuf menjadi pemimpin negeri (Kejadian 37:6-9). Dan Yusuf membuat firman itu menguasai hidupnya. Visi dari Tuhan itulah yang membuat Yusuf tetap kuat menjadi budak di rumah Potifar dan juga di penjara Mesir. Visi itulah yang membuatnya tidak goyah menghadapi rayuan istri Potifar.
            Saat Firman disampaikan, ada Anugerah di dalamnya. Tuhan berfirman bahwa orang-orang benar akan mewarisi negeri (Maz. 37:29). Jangan biarkan Firman berlalu, jangan sia-siakan Anugerah Tuhan, tapi buat Firman itu menguasai hidup mu! Promosi dari Tuhan akan datang ketika kita sudah benar-benar siap, hanya orang-orang yang siap yang akan Tuhan bangkitkan, jadi persiapkan seluruh aspek hidup mu.

2.       Semua peristiwa dan keadaan yang terjadi dalam kehidupan kita pada hari-hari ini adalah bagian dari proses yang Tuhan lakukan sebelum Ia mempromosikan kita.

                Ketika Yusuf berada di rumahnya, ia menghadapi kebencian dari saudara-saudaranya, di sini ia sedang diajar bagaimana meresponi dan mengambil keputusan bukan dari perasaannya.
            Di rumah Potifar, Yusuf diberi kekuasaan atas rumah dan seluruh milik Potifar. Di sini Yusuf dilatih untuk jujur dan mempunyai integritas. Karena kebenaran Yusuf masuk penjara, dan di dalam penjara, Allah menyertainya, Allah membuat Yusuf menjadi kesayangan bagi kepala penjara, sebab itu kepala penjara mempercayakan semua tahanan dalam penjara itu kepada Yusuf, juga segala pekerjaan yang dia lakukan di situ, Yusuflah yang mengurusinya. Tentu ada kesempatan untuk Yusuf dapat lari  dari penjara, tapi itu tidak dilakukan oleh Yusuf, ia tetap bertahan di penjara walau bukan karena kesalahannya, tapi karena kebenaran. Tapi di penjara itulah Yusuf bertemu dengan juru minuman dan juru roti raja, dan dari situlah Yusuf mendapatkan “kendaraan” untuk masuk ke dalam istana Firaun (Kejadian 39: 1-40 : 23)
            Bukankah seringkali karena kebenaran kita seperti masuk ke dalam “penjara”?. Tapi ketika kita selalu meresponi dengan cara yang ilahi, segala sesuatu yang terjadi justru mendatangkan kebaikan (Roma 8:28). Kebencian saudara-saudara Yusuf, seakan menjadi kutuk bagi Yusuf, tapi dengan sikap (respon) yang ilahi, Yusuf dapat mengubah kutuk menjadi berkat (Kejadian 50:20). Ketika kita dapat meresponi dengan cara yang ilahi, maka proses pembentukkan akan berjalan dengan cepat.

3.      Tuhan akan memberikan ladang-ladang yang berbeda untuk kita usahakan.
            Yusuf berasal dari keluarga peternak, ia dan saudara-saudaranya adalah pengembala kambing domba. Sejak Yusuf mendapat mimpi dari Tuhan, perjalanan hidupnya berubah. Setelah Tuhan selesai membentuknya, Tuhan memberikan ‘ladang’ baru kepada Yusuf, yaitu sebagai pemimpin kedua di Mesir.
            Untuk mendapatkan ‘ladang’, caranya dengan membeli, atau juga dengan mewarisi. ‘Membeli’ artinya adalah ada harga yang harus kita bayar untuk mendapatkan ‘ladang’ baru. Jika kita hanya memiliki cangkul untuk mengerjakan ladang, maka Allah tidak akan memberikan kepada kita ladang yang berhektar-hektar. Tapi jika kita memiliki traktor dan alat berat lainnya yang dapat kita gunakan untuk mengerjakan ladang, tentu Allah akan memberi kepada kita ladang yang luas untuk kita kerjakan, dan kita harus memastikan bahwa ladang yang Tuhan berikan itu tidak kita sia-siakan. Ketika  kita bersedia membayar harganya demi dapat memperbesar kapasitas kita (dengan belajar, mengasah ketrampilan, dan lain-lain), maka kita akan dapat ‘membeli’ ladang yang baru. Minimal Tuhan mempercayakan kepada kita satu ladang, jika kita setia, maka Tuhan akan memberikan kepada kita ladang-ladang yang lain.
            Buang segala bentuk kemalasan! Perbesar kapasitas! Promosi datang ketika kita siap. Seadainya promosi datang ketika kita belum siap, maka kita akan membuang kesempatan emas itu. Siapkan dirimu dari sekarang!

4.      Akan segera terjadi berbagai peristiwa ilahi yang didesain oleh Allah sendiri dengan tujuan untuk mulai mempromosikan kita.
                Ketika Yusuf siap, Allah membuat Firaun bermimpi. Tidak ada orang bijak di Mesir yang dapat mengartikan mimpinya, ini adalah saat-saat Yusuf mendapat promosi. Dan dengan hikmat Allah Yusuf mengartikan mimpi Firaun (Kejadian 41:1-36).
            Ketika Goliat menantang-nantang orang Israel, saat itulah Daud mendapat promosi dari Tuhan (1 Samuel 17: 12-39).
            Jika ada tantangan di depan kita, jangan lari menjauh seperti Saul, tapi larilah mendekat seperti Daud, karena dibalik tantangan itu ada promosi.  “Dengan Allah akan kita lakukan perbuatan-perbuatan gagah perkasa, sebab Ia sendiri akan menginjak-injak para lawan kita. “ (Mazmur 60:14)
      

GENERASI BARU

Posted by GBI Kudus On Minggu, November 07, 2010

Tujuan Tuhan membangkitkan gerejaNya adalah supaya bangkit generasi baru yang dapat menjadi jawaban bagi jawaban bagi lingkungannya.
Di dalam gereja Tuhan, ada 2 kelompok orang percaya.

1. Generasi yang mentaati Firman Tuhan.
"Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.” (Matius 7:24-25). Orang-orang yang mentaati Firman Tuhan adalah orang-orang yang melakukan kebenaran dan merekalah yang dimaksud Tuhan sebagai orang benar. Generasi seperti inilah yang akan dibangkitkan Tuhan untuk dapat memimpin dan mewarisi negeri, seperti janjiNya dalam Mazmur 37:29 “Orang-orang benar akan mewarisi negeri dan tinggal di sana senantiasa.”
Jika kita dapat memposisikan diri kita sebagai orang benar (dengan mentaati Firman Tuhan), maka Allah dengan kedaulatanNya akan mengangkat / mempromosikan kita dengan tujuan apa pengaruh kuasa Kerajaan Allah makin diperluas.
Pada hari-hari ini, kita melihat banyak goncangan-goncangan yang terjadi disekitar kita. Semuanya itu memang dijinkan Tuhan, supaya dapat dilihat dengan nyata mana yang dapat digoncangkan dan mana yang tidak dapat digoncangkan. Hanya orang yang hidup dalam kebenaran (hidup dalam Kerajaan Allah), mereka tidak tergoncangkan, karena Allahlah yang menjadi kekuatanNya (Ibrani 12:26-28). Sehingga akan tergenapi nubuatan nabi Yesaya “Akan terjadi pada hari-hari yang terakhir: gunung tempat rumah TUHAN akan berdiri tegak di hulu gunung-gunung dan menjulang tinggi di atas bukit-bukit; segala bangsa akan berduyun-duyun ke sana.” (Yesaya 2:2).
Seperti janji Tuhan kepada Abraham (Kejadian 22:16-17), keturunan Abraham ada yang seperti bintang di langit, tapi ada juga yang seperti pasir di tepi laut. Keturunan Abraham yang seperti bintang di langit, adalah orang-orang percaya yang hidup dalam kebenaran, yang dengar firman dan mentaati. Pada jaman dulu, bintang dipakai oleh nelayan sebagai penunjuk arah, bintang dipakai juga oleh petani sebagai penunjuk musim. Orang Majus dalam perjalannya mencari bayi Yesus, mereka dituntun oleh sebuah bintang (Matius 2:1-12). Orang-orang percaya yang hidup dalam kebenaran, mereka akan bercahaya seperti bintang ditengah-tengah komunitasnya dan akan menjadi petunjuk arah, seperti bintang yang menuntun orang majus untuk bertemu sang Raja (Filipi 2:12-15).

2. Generasi yang hanya menjadi pendengar Firman Tuhan.
“Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya." (Matius 7:26-27). Di dalam gereja, ada juga orang percaya yang hanya menjadi pendengar Firman. Mereka berkata bahwa Fiman itu bagus, tapi mereka tidak memakai Firman Tuhan untuk merombak cara berpikirnya, sehingga Firman tidak mempengaruhi pengambilan-pengambilan keputusannya. Mereka hidup dengan pendapatnya dan pengertiannya sendiri. Orang-orang yang seperti ini, Tuhan menyebutnya sebagai orang bodoh seperti orang yang mendirikan rumah di atas pasir, sehingga jika banjir datang, maka rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya.
Jika kita tidak menjadi pelaku Firman, maka hidup kita akan rapuh, akan ikut tergoncang bersama dengan dunia yang sedang goncang, karena hanya hidup berdasarkan kekuatan sendiri dan apa yang kita miliki.
Generasi yang hanya menjadi pendengar Firman, inilah keturunan Abraham yang seperti pasir di tepi laut (Kejadian 22:16-17). Seperti Adam yang tidak taat, orang-orang yang memiliki sifat Adam, mereka akan menjadi ‘makanan’ iblis, kemanapun mereka berada, mereka akan dikejar oleh iblis, karena iblis makanannya adalah debu (Kejadian 3:14), dan Adam diciptakan Allah dari debu tanah (Kejadian 2:7).
“Maka marahlah naga itu kepada perempuan itu, lalu pergi memerangi keturunannya yang lain, yang menuruti hukum-hukum Allah dan memiliki kesaksian Yesus” (Wahyu 12:17). Naga adalah gambaran iblis – antikris, marah dan memerangi keturunan perempuan yang lain, yaitu orang-orang percaya yang hanya menjadi pendengar Firman dan iblis diperkenankan dan diberi kuasa oleh Allah untuk mengalahkan anak-anak Tuhan yang tidak taat. “Dan ia diperkenankan untuk berperang melawan orang-orang kudus dan untuk mengalahkan mereka; dan kepadanya diberikan kuasa atas setiap suku dan umat dan bahasa dan bangsa.” (Wahyu 13:7). Seperti bangsa Israel, pada waktu Israel tidak taat, Allah pakai bangsa-bangsa lain untuk menekan Israel, tetapi ketika Israel berbalik kepada Allah, maka Allah membebaskan mereka.

“Entahkah orang membangun di atas dasar ini dengan emas, perak, batu permata, kayu, rumput kering atau jerami, sekali kelak pekerjaan masing-masing orang akan nampak. Karena hari Tuhan akan menyatakannya, sebab ia akan nampak dengan api dan bagaimana pekerjaan masing-masing orang akan diuji oleh api itu. (1 Korintus 3:12-13). Sekarang kita berada dikelompok yang mana, itu tergantung pilihan kita. Respon-respon kiralah yang menentukan. Kita membangun dengan emas, perak, batu permata atau, dengan kayu, rumput kering atau jerami. Semuanya akan diuji. Jika respon kita benar, maka kita akan dapat mengubah kutuk menjadi berkat (seperti Yusuf dan Hana).
Kita harus memastikan bahwa kita adalah orang-orang yang taat. Kita harus memakai kebenaran Firman untuk merombak hidup kita. Kebenaran Firman Tuhan harus mempengaruhi respon-respon kita, mempengaruhi keputusan kita dan mempengaruhi gaya hidup kita.
Tuhan telah memberikan kepada kita-jemaat, pemimpin rohani. Mereka telah diproses oleh Tuhan, untuk menjadi bapa bagi generasi baru. Seperti Abraham yang telah lulus ujian, maka Allah membuat Abraham memiliki posisi baru, yaitu sebagai bapa orang percaya (Kejadian 22:1-19). Kita harus menjadikan pemimpin rohani sebagai sumber anugerah, yaitu dengan tanggap dan responsif terhadap Firman yang disampaikan dan arahan yang diberikan. Ini adalah bagian yang harus kita kerjakan.

MEMILIKI KUASA DOA

Posted by GBI Kudus On Minggu, Oktober 31, 2010



Baca I Yohanes 3 – 19 – 24

Kita rindu memiliki kuasa doa; kita ingin doa kita di dengar Tuhan sehingga menghasilkan dampak atau perubahan. Malalui renungan kita kali ini, kita dapat belajar bagaimana memiliki kuasa doa sehingga kita dapat mempraktekkannya dalam hidup sehari-hari.
Doa kita berkuasa, jika :


1. Memahami bahwa Allah ada di dalam kita.

“Barangsiapa menuruti segala perintahNya, ia diam di dalam Allah dan Allah di dalam dia. Dan demikianlah kita ketahui, bahwa Allah ada di dalam kita, yaitu Roh yang telah Ia karuniakan kepada kita ” (I Yohanes 3:24)
Kita harus sadar bahwa sekarang tubuh kita adalah bait Allah dan kita hidup bagi kepentingan Allah. “Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, - dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? ” (I Korintus 6:19). Sekarang si aku sudah mati dan sekarang Kristus yang hidup di dalam aku, seperti kata Paulus: “Sebab aku telah mati oleh hukum Taurat untuk hukum Taurat, supaya aku hidup untuk Allah. Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diriNya untuk aku” (Galatia 2:19-20). Sekarang kita adalah ciptaan baru, hal ini kita terima dengan iman dan kita hidup menghayati hidupnya Kristus.

2. Kita menuruti perintahNya

“Saudara-saudaraku yang kukasihi, jikalau hati kita tidak menuduh kita, maka kita mempunyai keberanian percaya untuk mendekati Allah, dan apa saja yang kita minta, kita memperolehnya dari padaNya, karena kita menuruti segala perintahNya dan berbuat apa yang berkenan kepadaNya. Dan inilah perintahNya itu: supaya kita percaya akan nama Yesus Kristus AnakNya, dan supaya kita saling mengasihi sesuai dengan perintah yang diberikan Kristus kepada kita.” (I Yohanes 3:21-23).
Firman Tuhan mengatakan kepada kita bahwa, apa saja yang kita minta, kita akan memperolehnya dari Dia, jika kita menuruti segala perintahNya dan berbuat apa yang berkenan kepadaNya. perintahNya adalah percaya akan nama Yesus Kristus dan supaya kita saling mengasihi.
Percaya dalam nama Yesus Kristus, adalah percaya bahwa di dalam namaNya ada kuasa yang luar biasa. Karena: “Dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi” (Filipi 2:10). Jika kita berdoa “dalam nama Yesus”, kita yakin bahwa di dalam Dia tidak ada perkara yang mustahil. Jika kita berdoa “dalam nama Yesus” atau “demi nama Yesus “ itu berarti; “demi kerajaanNya ditegakkan” atau doa kita adalah doa untuk kepentingan kerajaanNya. Dimanakah kepentingan kita? Bukankah “aku” sudah mati? Itu berarti kepentingan kitapun ikut mati dan sekarang yang hidup adalah Kristus. Kita hiudp bagi kepentinganNya. “Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka.” (II Korintus 5:15).
Perintah yang lain adalah: supaya kita saling mengasihi. Ini dapat kita lakukan, karena kasih Allah sudah dicurahkan keatas kita. “Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.” (Roma 5:5). Potensi untuk mengasihi telah Tuhan berikan kepada kita. Ini adalah kasih agape, yaitu kasih karena Kristus, bukan kasih filia (kasih karena obyek – aku mengasihi karena dia baik padaku). Bukankah pada waktu kita jatuh dan jauh dari Dia, Yesus tetap mengasihi kita dan Ia membangkitkan kita kembali sehingga kita menjadi seperti sekarang, itu karena kasih Kristus. Kasih agape adalah kasih yang sesuai dengan Firman Tuhan. Karena kasih, pada waktu kita salah Ia menegor, menghajar, dan mendisiplin kita supaya kita bertobat dan kembali kejalanNya (Ibrani 12:5-8). Imam Eli mengasihi anaknya tidak dengan kasih agape, ia tidak berani menegor ketika anak-anaknya bersalah, dan karena itu imam Eli ditolak oleh Allah (I Samuel 2:22-36). Dengan kasih yang seperti inilah kita mengasihi saudara-saudara kita. Pada waktu saudara kita lemah, kita datang untuk menolong, memberi dukungan sehingga mereka dapat bangkit kembali untuk menyelesaikan rencana Allah dalam hidupnya. Pada waktu saudara kita bersalah, kita tegur dan nasehati mereka supaya mereka bertobat dan kembali dalam destiny Ilahi (tujuan Ilahi) dalam hidupnya.
“Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-muridKu, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.” (Yohanes 13:34-35).
Seperti Tuhan Yesus mengasihi kita, seperti itulah kita mengasihi saudara kita.
Kita sudah memiliki potensi Ilahi untuk mengasihi, yang membuat potensi tidak mengalir atau yang membuat kita tidak dapat mengasihi adalah karena paradigma atau pikiran kita yang belum dibaharui.
Ketaatan akan membuat kita tinggal dalam kasihNya. “Barangsiapa menuruti segala perintahNya, ia diam di dalam Allah dan Allah di dalam dia” (I Yohanes 3:24a).

3. Mengalami kuasa doa

“Dan apa saja yang kita minta, kita memperolehnya dari padaNya, karena kita menuruti segala perintahNya dan berbuat apa yang berkenan kepadaNya.” (I Yohanes 3:22)
Kalau kita taat, doa kita akan berkuasa. “Sebab bagi orang-orang yang ada di dalam Kristus Yesus hal bersunat atau tidak bersunat tidak mempunyai sesuatu arti, hanya iman yang bekerja oleh kasih.” (Galatia 5:6). Yang terpenting adalah iman yang bekerja oleh kasih, artinya percaya kepada Kristus, dan itu nyata dalam kasih kita kepada orang lain.

TUJUAN TERTINGGI

Posted by GBI Kudus On Kamis, Oktober 28, 2010

Kita tahu bahwa Allah telah menyediakan kehidupan yang berkelimpahan bagi kita semua. Ia telah menyediakan suatu jalan bagi kita untuk menerima kehidupan yang berkelimpahan itu dan berjalan di dalam berkat-berkat Allah. Caranya ialah dengan membaharui pikiran kita. Puji Tuhan, kita dapat benar-benar hidup dalam surga di dunia ini. Akan tetapi mengapa? Mengapakah Allah menghendaki kita bertumbuh, berbuah dan makin menjadi serupa dengan Yesus di dunia? Bisa saja Ia langsung membawa kita ke surga ketika kita dilahirkan kembali sehingga kita langsung bisa memperoleh semuanya itu.
Ada satu aspek lain dari bertumbuh, berbuah dan membaharui pikiran yang ingin saya jelaskan kepada Anda. Mari kita lihat kembali Efesus 4:11-15 : “Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar.” “Untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus.” “Sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus.” “Sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan.” “Tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran ; di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala.” Yesus memberikan karunia-karunia pelayanan Rasul rasul, nabi-nabi, pemberita-pemberita Injil, gembala-gembala dan pengajar-pengajar kepada Gereja supaya orang-orang kudus bertumbuh menjadi dewasa dan sempurna. Namun perhatikanlah ayat 12 yang mengatakan, “Untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan.” Yang dikatakan Alkitab adalah bahwa kepemimpinan Gereja dimaksudkan untuk memperlengkapi (menyempurnakan) Gereja agar orang-orang awam dapat melakukan pekerjaan-pekerjaan pelayanan.
Di masa lampau telah berkembang suatu pemikiran yang memisahkan pendeta-pendeta dari anggota-anggota jemaatnya. Banyak orang berpendapat – dan beberapa dari antara mereka masih tetap memegang konsep ini sampai sekarang – bahwa pendeta-pendeta, imam-imam, dan pengajar-pengajar harus melaksanakan semua pekerjaan pelayanan sedangkan anggota-anggota jemaat – orang-orang yang awam – harus duduk dan mendengarkan saja. Konsep ini terus berkembang sampai akhirnya pada suatu saat orang-orang tidak dapat memiliki Alkitab secara secara pribadi lagi. Mereka tidak bisa membaca Alkitab sendiri karena hal itu bertentangan dengan praktek keagamaan pada masa itu. Seorang anggota Gereja yang awam dianggap berdosa apabila ia memiliki sebuah Alkitab!
Sekarang tradisi itu – belenggu itu – telah dihancurkan. (Iblis membuat hal itu terjadi untuk menjauhkan Firman Allah dari umat Tuhan). Kini orang-orang awam memiliki Alkitab. Mereka sadar bahwa mereka adalah bagian dari Gereja. Mereka adalah kawan sekerja Allah. Meskipun demikian banyak orang yang masih mempunyai mentalitas bahwa pendeta harus melakukan semua pekerjaan Gereja local dan setiap orang lainnya hanyalah jemaat. Pendapat ini salah, bersifat negatif dan bukanlah kebenaran! Jemaat Gereja mempunyai tanggung jawab yang sama besarnya dengan pendeta mereka untuk melakukan pekerjaan pelayanan. Bedanya hanyalah seorang pendeta bertanggung jawab untuk mengajar jemaatnya agar mereka dapat lebih banyak melakukan pekerjaan pelayanan dan melakukannya dengan lebih baik, kita semua bertanggung jawab untuk melaksanakan pekerjaan pelayanan. Beginilah bunyi Efesus 4:12 di dalam Amplified Bible. “TujuanNya adalah menyempurnakan dan melengkapi orang-orang kudus (umatNya yang kudus) (agar mereka melakukan) pekerjaan pelayanan guna membangun tubuh Kristus (Gereja)” Tugas seorang pendeta adalah memperlengkapi jemaatnya dengan pengetahuan, iman, pengertian, hikmat dan kekuatan untuk melakukan pekerjaan pelayanan.
Apabila Anda pikirkan dengan seksama, tidak mungkin seorang pendeta bisa melakukan semua pekerjaan pelayanan. Apabila Anda memperbaharui pikiran Anda dan berubah di dalam Allah, Anda akan bertambah maju di dalam pekerjaan pelayanan Anda. Anda akan melakukan berbagai macam pekerjaan pelayanan dengan Tuhan untuk orang lain. Hal-hal yang Anda lakukan untuk menolong orang lain akan bertambah banyak.
Firman Allah memberitahukan kita bahwa kita harus mengajarkan segala bangsa mengenai Yesus. Matius 28:19,20 mengatakan :”Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa, dan Anak dan Roh Kudus.” “Dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Ku perintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman”. Yesus tidak mengatakan, “Pergilah dan usahakan agar orang-orang dilahirkan kembali.” Ia tidak mengatakan, pergilah dan bagi-bagikanlah traktat.” Ia tidak mengatakan, “Pergilah dan bawalah poster yang mengatakan ‘Bertobatlah’”. Yang Yesus katakan adalah, “Pergilah, dan ajarkanlah semua bangsa.” Dalam bahasa Yunani, arti harfiahnya adalah, “Pergilah, dan jadikanlah semua bangsa muridKu.” Seorang murid adalah seorang manusia yang berdisiplin dalam mengikut Tuhan. Seorang murid Yesus adalah seorang manusia yang telah mendisiplinkan dirinya untuk mengikut Yesus.
Banyak orang Kristen belum memahami hal ini. Mereka menjadi kecil hati karena mereka kira bilamana mereka sudah menerima Yesus itu adalah akhir segalanya ; tidak ada lagi yang mereka harus lakukan sampai mereka tiba di surga. Akan tetapi kekristenan yang sejati tidaklah seperti itu. Pada waktu Anda dilahirkan kembali Anda baru saja menjadi seorang tentara (tingkat bawahan ). Anda mengatakan, “Ya, saya akan mengangkat senjata saya. Ya, saya akan pergi berperang melawan iblis dan segala kejahatan dunia ini. Ya, saya mau menjadi laskar Kristus.” Anda tidak mengatakan, “Ya, saya akan duduk-duduk dan beristirahat sampai saya tiba di surga.” Anda akan berkata, “Ya, saya mau menjadi seorang murid.”
Kita harus sadar bahwa kekristenan sebenarnya adalah suatu proses dimana kita membaharui pikiran kita, menukar pikiran kita, dengan pikiran Allah dan bertumbuh menjadi makin seperti Yesus setiap hari. Apakah yang dilakukan oleh Yesus dengan seluruh kehidupan dan kekuatanNya? Ia menolong orang. Oleh sebab itu seorang Kristen adalah seorang manusia yang berubah dan bertumbuh setiap hari agar ia dapat terus melakukan lebih banyak hal untuk menolong orang lain. Seorang Kristen bukanlah seorang manusia yang egois. Seorang Kristen tidak hanya berminat pada apa yang dapat ia peroleh ; ia berminat pada apa yang dapat ia lakukan bagi orang lain. Yang dinamakan murid-murid Yesus adalah orang-orang yang mengikuti jejak Tuhan Yesus. Murid-murid Yesus adalah orang-orang yang bukan sekali mengatakan, “Yesus” dan kemudian sibuk mengurus bisnis mereka sendiri. II Korintus 4:16 mengatakan : “Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami diperbaharui dari hari kesehari.”
Jika Anda melibatkan Tuhan, Roh Kudus dan Alkitab dalam kehidupan Anda, maka anda sedang diperbaharui dari hari ke hari. Anda sedang bertumbuh dan Anda sedang berubah menjadi seorang manusia yang berbeda Anda akan berminat untuk menolong orang lain menerima kehidupan dari Allah. Seperti Yesus, Anda bersedia memberikan hidup Anda untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan orang lain.

PERCAYA BERARTI MELIHAT

Posted by GBI Kudus On Selasa, Oktober 26, 2010

Orang yang berjalan dengan iman, adalah orang yang berjalan dengan mata hati. Mereka berjalan dengan mata hati yang hanya melihat Yesus dan FirmanNya. Percaya itu berarti melihat, melihat Kristus dan janji-janjiNya. Firman Tuhan mengatakan: "Orang benar akan hidup oleh iman." (Roma 1:17). Orang percaya, hidup dengan keyakinan yang teguh terhadap Allah dan FirmanNya. Keyakinan yang teguh, adalah keyakinan yang kokoh, yang tidak dapat digoyahkan oleh apapun dan siapapun juga. Karena keyakinan orang percaya didasarkan atas apa yang Firman Tuhan katakan. “Janji TUHAN adalah janji yang murni, bagaikan perak yang teruji, tujuh kali dimurnikan dalam dapur peleburan di tanah. Engkau, TUHAN, yang akan menepatinya” (Mazmur 12:7-8). Satu hal yang tidak dapat Allah lakukan, yaitu: Allah tidak dapat berbohong. Karena itu, jika Allah berjanji, maka Ia akan menepatinya.
“Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus, dan betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya, sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya,” Efesus 1:18-19. Ini adalah doa dan harapan Paulus untuk jemaat di Efesus dan juga untuk kita. Karena Paulus tahu: hanya setiap orang yang hidup dengan mata hati yang melihat dengan jelas akan Allah dan FirmanNya, mereka akan hidup dengan suatu kepastian yang tak tergoyahkan oleh apapun dan siapapun, dan akan memiliki suatu kehidupan yang berpengharapan. Coba bayangkan, apa yang Anda rasakan bila berada di tempat yang gelap dan tidak ada cahaya sedikitpun. Pasti yang Anda rasakan adalah: ketakutan, kecemasan, kekhawatiran. Satu-satunya kepastian di dunia ini adalah ‘ketidakpastian’. Setiap orang yang hidupnya didasarkan dengan apa yang ada di dunia ini, mereka akan merasa ketidakpastian mewarnai hidupnya dan rasa takut, cemas, khawatir adalah bagian dari hidupnya. Tapi orang yang percaya, hidup dalam terang Firman Tuhan, sehingga tidak ada ketakutan dan kekhawatiran. Fakta dan kenyataan yang ada hanyalah kebenaran sementara, tapi kebenaran yang sejati adalah Allah dan FirmanNya. Bila kita memegang teguh kebenaran yang sejati itu (Allah dan FirmanNya), maka kebenaran yang sejati itu akan menyatakan dirinya / kebenaran yang sejati itu akan menjadi kenyataan. “Sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat.” (Ibrani 11:3b).
Buat setiap Firman Tuhan yang diwahyukan menjadi suatu keyakinan yang teguh dalam hatimu. Dengan cara: renungkan, pikirkan, dan perkatakan Firman itu terus menerus sampai Firman Tuhan yang diwahyukan itu menjadi bagian dari hidupmu dan menjadi suatu keyakinan yang kokoh yang tidak tergoyahkan oleh apapun dan siapapun. Ingat: apa yang kita lihat sebenarnya telah terjadi lebih dahulu dari apa yang tidak dapat kita lihat (Ibrani 11:3b).
Dalam I Korintus 2:9 berbunyi: "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia." Dalam ayat ini, seolah-olah kita tidak melihat apa yang Allah sediakan bagi kita. Dan memang mata jasmani kita belum melihat apa yang telah disediakan Allah bagi kita, tapi kita dapat melihatnya dengan mata hati kita, bila kita mempunyai dinamika roh. Karena dalam I Korintus 2:10 berkata: “Karena kepada kita Allah telah menyatakannya oleh Roh, sebab Roh menyelidiki segala sesuatu, bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah.” Ayat ini menunjukkan kepada kita, bahwa apa yang disediakan Allah bagi kita adalah sesuai dengan iman kita. Dengan dinamika Roh (kehidupan Allah yang mengalir dalam hidup kita), kita akan dapat melihat apa yang Allah sediakan bagi kita. Orang yang memiliki dinamika Roh tandanya adalah rohnya menyala-nyala.
“Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” (Amsal 4:23). Ini adalah suatu peringatan yang sangat penting bagi kita, karena bila hati kita tercemar (yang ditandai dengan roh kita mulai padam), maka mata hati kita akan menjadi kabur dan tidak dapat melihat allah dan janji-janjiNya, bahkan kita tidak akan dapat melihat apa yang disediakan Allah bagi kita. Bila hal ini terjadi; kekhawatiran, kecemasan, ketakutan akan menjadi bagian hidup orang-orang yang rohnya padam. Jaga rohmu untuk selalu menyala-nyala, jaga dinamika rohmu, karena itu adalah nyawa/ kehidupanmu. Buat agar kobaran rohmu semakin besar agar mata hatimu semakin tajam dan jelas melihat Allah dan janji-janjiNya yang disediakan bagimu. Dengan cara membangun manusia roh, maka kobaran rohmu akan semakin besar. Bila kita memiliki pandangan yang jelas tentang Allah dan janji-janjiNya, maka akan timbul iman dalam hati kita. Allah yang memberi iman, Allah juga yang akan menjawab iman kita.
“Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga.” (Efesus 1:3). Ini janji Tuhan bagi kita, bahwa Allah telah menyediakan segala sesuatu bagi kita agar kita dapat hidup menyatakan Kristus. Allah ingin, melalui hidup kita kehidupan Yesus kembali dapat dilihat oleh dunia ini. Untuk tujuan itu, Allah telah menyediakan segala sarana dan prasarana bagi kita di surga (di alam roh). Hanya dengan iman, kita dapat mengambil berkat yang sudah disediakan Tuhan bagi kita. Luar biasa apa yang telah Allah sediakan bagi kita!!.

HAL-HAL YANG HARUS KITA HINDARI

Posted by GBI Kudus On Senin, Oktober 25, 2010

1. Menjadi Orang Kristen yang paling celaka

“Sebab di dalam batinku aku suka akan hukum Allah, tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku. Aku manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?” (Roma 7:23-24).
Orang Kristen yang paling celaka adalah orang Kristen yang membiarkan dosa ada dalam dirinya.
Sejak kita menerima Kristus dalam hati kita, kita menjadi ciptaan yang baru (II Korintus 4:17). Roh kita dicipta segambar/ sehakekat RohNya Kristus. Melalui kematian dan kebangkitanNya, Kristus telah mengalahkan setan dan pekerjaannya, Kristus telah mengalahkan dosa, Kristus telah mengalahkan maut. Dan kita telah menerima Roh yang sedasyat itu. Karena itu Firman Tuhan berkata bahwa kita lebih dari pemenang (Roma 8:17).
“Sebab aku telah mati oleh hukum Taurat untuk hukum Taurat, supaya aku hidup untuk Allah. Aku telah disalibkan dengan Kristus” (Galatia 2:19). Dengan kematian Kristus di kayu salib, kita juga turut mati di kayu salib. Yang mati di kayu salib adalah ke-akuan kita, dosa kita, hidup lama kita, kedagingan kita. Dan ayat selanjutnya (Galatia 2:20) mengatakan: ”Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang ku hidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diriNya untuk aku” sekarang bukan aku lagi yang hidup, tapi Kristus yang hidup di dalam aku. Sekarang kita menghayati hidup kita yang baru, yaitu hidupnya Yesus yang ada di dalam kita.
“Demikianlah hendaknya kamu memandangnya ; bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus.” (Roma 6:11). “Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia.” (Roma 6:14). Ayat ini menunjukkan kepada kita, bahwa sejak kita menerima Kristus, sifat dasar untuk berbuat dosa yang ada pada kita sudah dicabut oleh Kristus. Hal ini kita terima dengan iman dan kita harus menyadari sepenuhnya bahwa sifat dasar kita untuk berbuat dosa sudah dicabut oleh Kristus. Yang masih ada hanyalah kebiasaan dosa dan ini harus kita atasi. Tugas kita adalah: menolak yang lama (dosa dan kebiasaannya) dan menghayati hakekat kita yang baru, yaitu hidupnya Yesus yang ada pada kita. Bila kita menghayati hidupnya Kristus, maka akan dengan mudah untuk menolak dosa dan meninggalkan kebiasaan dosa. Karena Firman Tuhan mengatakan bahwa kita tidak dikuasai oleh dosa (Roma 6:14).
Allah sudah berjanji kepada kita dalam Yehezkiel 36:26-27 “Kamu akan Ku berikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Ku berikan kepadamu hati yang taat. RohKu akan Ku berikan diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapanKu: tetap berpegang pada peraturan-peraturanKu dan melakukannya”. Allah berjanji kepada kita; Ia memberi hati yang taat kepada kita, Ia menjauhkan hati yang keras dari kita dan Ia memberikan RohNya kepada kita dan Ia membuat kita taat dan hidup menurut FirmanNya. Pada saat kita mengambil keputusan untuk menolak dosa, maka Roh Kudus memberi kekuatan kepada kita sehingga kita mampu menolak dosa, dan akhirnya kita dapat hidup taat sesuai dengan Firman Tuhan.
Jadi jika kita jatuh di dalam dosa, itu bukan karena besarnya kuasa dosa menarik kita, tapi karena kita salah mengambil keputusan. Karena segala sarana dan fasilitas yang kita butuhkan untuk hidup kudus dan taat sudah Tuhan berikan kepada kita. Apalagi bila orang Kristen yang membiarkan dosa ada dalam dirinya (hidup dalam dosa), mereka pasti memiliki hati nurani yang tercabik-cabik, karena mereka tahu yang salah, tapi tidak mampu menolaknya dan karena mereka tidak menghayati hidupnya yang sejati yaitu hidup Yesus yang ada padanya. Karenanya, Paulus mengatakan: orang Kristen yang paling celaka adalah orang Kristen yang membiarkan dosa ada dalam dirinya. Orang Kristen yang hidup di dalam dosa, hidupnya tidak dapat menjadi saksi bagi Kristus. Hanya dibutuhkan sebuah keputusan saja untuk meninggalkan dosa dan menolak dosa, karena dibalik keputusan yang benar, ada anugerah Tuhan yang tersedia, yang akan memampukan kita untuk dapat hidup taat.
Bangkitlah dalam kuasa Roh, ambil keputusan dengan benar, karena dalam keputusan yang benar ada anugerah Tuhan yang tersedia. Hiduplah sesuai dengan identitasmu yang sejati di dalam Kristus.

2. Menjadi Orang Kristen yang paling celaka

“Jikalau kita hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan pada Kristus, maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia” (I Korintus 15:19).
Kalau pengharapan kita kepada Kristus terbatas pada hidup kita di dunia ini saja, maka kita adalah orang yang paling malang. Karena mengharapkan Yesus hanya untuk perkara-perkara duniawi saja. Orang yang seperti ini akan memanfaatkan Yesus hanya untuk memenuhi kebutuhan/ keinginannya saja. Hal itu menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang mementingkan diri sendiri dan berpusat pada diri sendiri.
Orang-orang yang mementingkan diri sendiri, walaupun mereka sepertinya aktif dalam pelayanan, sesungguhnya mereka sedang melayani keinginannya sendiri. Dalam pelayanan, mereka mencari kepuasannya sendiri, bukan mencari perkenanan Allah. Orang-orang yang berpusatkan dirinya sendiri, akan memakai karunia-karunia roh dan anugerah Allah untuk kepentingannya sendiri. Mereka seperti anak bungsu (dalam perumpamaan Tuhan Yesus – Lukas 15:11-32) yang menghambur-hamburkan kekayaan bapanya untuk kepuasannya sendiri. Mereka mengawali pelayanannya di dalam roh dan mengakhirinya di dalam daging. Dan seperti anak bungsu, hidup mereka akan berakhir di kandang babi (keadaan yang sangat rendah).
Orang-orang Kristen yang hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapannya kepada Kristus, mereka hidup dalam agendanya sendiri. Mereka hidup bagi kepentingannya sendiri, bukan kepentingan sorga. Mereka hidup dalam kerajaannya sendiri dan yang menjadi raja adalah diri mereka sendiri. Pada hal Allah ingin : kita hidup bagi kepentingan Kerajaan Sorga, yaitu : Allah ingin menjangkau lingkungan kita melalui hidup kita. Allah ingin : melalui hidup setiap anak-anakNya menyatakan kepenuhan Kristus. Mereka yang hidup bagi kepentingan sorga, mereka tidak hidup dengan apa yang mereka punya, tapi mereka hidup dengan persediaan sorga yang tak terbatas. Tapi mereka yang hidup bagi kepentingan sendiri (agendanya sendiri), mereka hidup dengan persediaan yang mereka punya. Karena itu Alkitab mengatakan; orang-orang yang hidup bagi kepentingannya sendiri adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia, karena mereka tidak mengerti rencana Allah dalam hidupnya.

Selaraskan keinginan-keinginanmu, hiduplah bagi agenda sorga. Allah punya rencana yang luar biasa dalam hidupmu. Melalui hidupmu, Allah ingin menjangkau lingkunganmu. Bangkitlah dalam kuasa roh, Allah mengatakan bahwa engkau adalah garam dunia dan terang dunia.

KEYAKINAN YANG TEGUH

Posted by GBI Kudus On Minggu, Oktober 24, 2010

Memiliki keyakinan yang teguh (strong conviction) artinya: kita memiliki suatu area kehidupan yang sepenuhnya berakar dan terbangun di atas prinsip mutlak kebenaran Firman.
Bagi sebagian orang, mereka yang memiliki keyakinan yang teguh mungkin disebut sebagai ‘orang yang keras’ – seperti Paulus yang dengan berani menegur Petrus yang jauh ‘lebih senior’ karena kekeliruan fatal yang ia lakukan (Galatia 2:11-14). Tapi bukankah lebih baik disebut oleh orang lain sebagai ‘orang yang keras’ daripada disebut oleh Tuhan sebagai ‘orang yang mengkompromikan kebenaran?’
Tanpa kita membangun kehidupan kita sepenuhnya di atas kebenaran mutlak FirmanNya – tanpa kita memiliki ‘strong conviction’ (keyakinan yang teguh) – kita tidak akan pernah bisa dipakai Tuhan untuk mengubahkan komunitas di sekeliling kita (Yesaya 60:1-3)
Tanpa kita sadari, selama ini kita hanya menerima kebenaran Firman dengan sukacita tapi kita belum sungguh-sungguh berusaha untuk berakar di dalamnya (Matius 13:20-21) Akibatnya, kita lebih mudah untuk mengkompromikan atau ‘memberikan penafsiran yang berbeda’ tentang kebenaran mutlak yang Tuhan sudah singkapkan kepada kita setiap kali datang tantangan yang berkaitan dengan Firman yang sudah kita terima tersebut.
Seringkali kita menerima suatu penyingkapan Firman, sekali waktu kita pasti akan menghadapi ujian berkaitan dengan Firman tersebut ; saat ujian itu tiba, saat itulah kita akan sungguh-sungguh mengetahui sampai sejauh mana kita sudah berakar di dalam FirmanNya dan sejauh mana Firman itu sudah mempengaruhi hidup kita (Yakobus 1:19-26).
Mereka yang terus mempraktekkan proses perenungan Firman, akan bangkit sebagai orang –orang yang memiliki ‘strong conviction’(keyakinan yang teguh):

1. Orang yang memiliki ‘strong conviction’(keyakinan yang teguh) tidak mudah terintimidasi karena hidup dengan hati nurani yang murni.

Saat Petrus dan Yohanes menghadapi tantangan dari para Imam dan ahli Taurat, mereka menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan dengan keyakinan yang teguh (Kisah Rasul 4:7-20). Kemurnian hati nurani yang mereka miliki, memberikan kepada mereka otoritas Ilahi yang cukup untuk menghadapi setiap intimidasi yang dilepaskan oleh para Imam yang mengadili mereka.
Dengan hidup kita berakar kepada kebenaranNya, secara otomatis setiap ucapan, tindakan bahkan pemikiran kita sepenuhnya dipengaruhi dan dikendalikan oleh kebenaran yang kita percayai tersebut. Karenanya, kita memiliki dasar yang kuat untuk mempertanggung jawabkan setiap tindakan dan keputusan yang kita ambil. Sekalipun harus melakukan suatu ‘konfrontasi’, tapi kita akan dapat melakukannya dengan hati nurani yang tetap bersih. Tanpa kita harus berjerih payah untuk membela diri, kebenaran yang kita hidupi itu akan menyatakan dirinya dan membela kita.

2. Orang yang memiliki ‘strong conviction’(keyakinan yang teguh) memiliki otoritas untuk mengubahkan garis hidup yang ia miliki.

Pada saat Tuhan mengunjungi Gideon dan berniat untuk membangkitkan dia menjadi hakim atas Israel, hal pertama yang Ia lakukan adalah mengimpartasikan FirmanNya untuk mempengaruhi hidup Gideon (Hakim-hakim 6:12-16). Meski Gideon memiliki semua yang ia butuhkan untuk dirinya pribadi, tapi ia memiliki konflik batin yang cukup parah dan sedang menghayati suatu kehidupan yang ‘tidak wajar’ : hidup di gua-gua, kehilangan iman atas Tuhan yang perkasa, dikuasai rasa minder/ rendah diri dan takut dalam mengambil keputusan. Tapi saat Firman Tuhan mulai bekerja dalam dirinya, ia mulai dapat meninggalkan ‘gua-gua persembunyiannya’ dan melangkah untuk menggenapi perintah Tuhan (Hakim-hakim 6:25-27)
Seringkali kita ‘menyerah’ pada nasib/ kondisi yang sedang kita hadapi karena kita tidak sungguh-sungguh mengetahui apa yang menjadi kehendak dan rencana Tuhan. Mudah sekali bagi si jahat untuk menyerongkan orang-orang yang tidak memiliki ‘strong conviction’ (keyakinan yang teguh), cukup dengan diperhadapkan pada berbagai ‘fakta dan realita’ yang terjadi. Tapi dengan kita memiliki ‘strong conviction’ (keyakinan yang teguh) tentang suatu kasus yang sedang kita hadapi, kita akan dapat bangkit dalam kuasa Roh dan mengubahkan garis kehidupan yang selama ini kita anggap sebagai ‘sesuatu yang wajar’. Orang-orang yang mampu menorehkan sejarah baru adalah orang-orang yang memiliki ‘strong conviction’ (keyakinan yang teguh). 

3. Orang memiliki ‘strong conviction’(keyakinan yang teguh) dapat memberi pengaruh yang kuat atas orang-orang disekelilingnya.

Saat Debora mengambil keputusan untuk maju berperang, keputusannya memberi pengaruh yang kuat atas Barak dan orang-orang Israel lainnya (Hakim-hakim 4:6-10 ; 5:7)
Orang-orang yang memiliki ‘strong conviction’ (keyakinan yang teguh) berani mempertaruhkan segala yang mereka punya demi apa yang mereka percayai berasal dari Tuhan; itulah salah satu alas an mengapa mereka yang memiliki ‘strong conviction’ (keyakinan yang teguh) selalu Tuhan bangkitkan menjadi seorang pemimpin. Memang ada orang-orang tertentu yang lahir dengan karakteristik kepribadian yang kuat seperti itu; tapi memiliki ‘strong conviction’ (keyakinan yang teguh) tidak ada sangkut pautnya dengan karakter manusiawi. ‘Strong conviction’ (keyakinan yang teguh) muncul dalam hidup kita sebagai hasil dari bekerjanya kuasa Firman yang mempengaruhi kualitas roh dan membentuk ulang kehidupan kita. Karena, setiap orang percaya harus hidup didalam ‘strong conviction’ (keyakinan yang teguh) dan merekapun secara otomatis akan dapat berfungsi sebagai ‘garam dan terang dunia’ serta menikmati kehidupan yang sepenuhnya berkemenangan. 

4. Orang yang memiliki ‘strong conviction’(keyakinan yang teguh) akan bangkit untuk memberi teladan bagi generasi yang dibawahnya.

Saat Paulus untuk pertama kali bertemu dengan Timotius, ia merasa terkesan dengan kesungguhan yang ia miliki dalam mencari Tuhan (II Timotius 1:3-5). Belakangan, barulah ketahuan bahwa kualitas itu Timotius miliki karena terimpartasi oleh nenek dan ibunya yang hidup dalam takut akan Tuhan.
Setelah Paulus bergaul dengan Timotius secara lebih mendalam, Timotius justru bangkit sebagai salah satu Rasul muda yang banyak menolong pelayanan Paulus (I Korintus 4:15-17)
Dengan kita terus membangun kehidupan kita di atas dasar kebenaran mutlak yang Tuhan nyatakan, kita dapat bangkit untuk memberi teladan bagi generasi di bawah kita; malah kita akan dapat membawa mereka untuk bangkit sebagai generasi yang lebih baik dari diri kita sendiri.
Tanpa adanya orang-orang yang memiliki ‘strong conviction’ (keyakinan yang teguh), dunia di sekeliling kita tidak akan banyak berubah. Sampai sejauh ini dunia di sekeliling kita banyak mengalami pergeseran karena munculnya orang-orang yang memiliki ‘strong conviction (keyakinan yang teguh) terhadap sesuatu yang salah’. Tanpa kita bangkit dengan ‘strong conviction’ (keyakinan yang teguh) yang di dasarkan pada kebenaran mutlak FirmanNya’, kita tidak akan pernah dapat menggarami dan mengubahkan dunia…

DOA

Posted by GBI Kudus On Sabtu, Oktober 23, 2010

“Lalu Yesus masuk ke Bait Allah dan mengusir semua orang yang berjual beli di halaman Bait Allah. Ia membalikkan meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati dan berkata kepada mereka: “Ada tertulis : RumahKu akan disebut rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun.” Maka datanglah orang-orang buta dan orang-orang timpang kepadaNya dalam Bait Allah itu dan mereka di sembuhkanNya.” (Matius 21:12-14)
Tuhan Yesus marah saat melihat Bait Allah dipakai untuk berdagang (untuk kepentingan pribadi, bukan kepentingan Allah), padahal seharusnya Bait Allah dipakai /berfungsi sebagai “Rumah Doa bagi segala bangsa” (Markus 11:17), dan ketika Bait Allah tidak berfungsi sebagaimana Tuhan mau, Ia marah.
Dalam I Korintus 6:19-20, berkata: “Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah Bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, - dan bahwa kamu bukan miliki kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” Ayat ini adalah suatu teguran, karena jemaat di Korintus banyak yang hidup dalam percabulan (baca: I Korintus 6:12-20), mereka memakai tubuhnya untuk percabulan. Karenanya Allah menegur mereka dengan keras. Seharusnya mereka memakai tubuhnya yang adalah Bait Allah sebagai rumah doa bagi segala bangsa. Yang Allah mau, kita memakai tubuh kita untuk menjangkau bangsa-bangsa bagi kemuliaan Tuhan, karena tubuh kita bukan milik kita sendiri, tapi milik Kristus, karena kita telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar dengan kematian Kristus di kayu salib. Kalau kita tidak menggunakan tubuh kita bagi kemuliaan Tuhan, maka saat ini juga Allah sedang menegur kita.
Jemaat di Efesus dapat menggunakan tubuhnya yang adalah bait Allah sebagai rumah doa bagi segala bangsa. Sehingga dalam waktu dua tahun Jemaat Efesus dapat menjangkau Asia bagi kemuliaan Tuhan Yesus (Kisah Rasul 19:10). Dalam Efesus 2:22 berbunyi: “Di dalam Dia kamu juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh”. Ini adalah kata-kata pujian bagi Jemaat di Efesus yang dapat menggunakan tubuhnya sebagai bait Allah. Allah juga akan melakukan hal yang sama kepada kita, yaitu Allah juga akan memuji kita bila kita dapat menggunakan anggota tubuh kita bagi kemuliaan Tuhan.
Yusuf, adalah orang yang dapat mefungsikan tubuhnya sebagai bait Allah. Di manapun Yusuf berada, Yusuf menjadi berkat. Ketika Yusuf berada di rumah Potifar, Tuhan pun memberkati rumah Potifar karena Yusuf. “Sejak ia (Potifar) memberikan kuasa dalam rumahnya dan atas segala miliknya kepada Yusuf, Tuhan memberkati rumah orang Mesir itu karena Yusuf, sehingga berkat Tuhan ada atas segala miliknya, baik yang di rumah maupun yang di ladang.” (Kejadian 39:5). Bukan saja di rumah Potifar, Yusuf menjadi berkat, di penjarapun Yusuf menjadi berkat bagi lingkungannya (Kejadian 39:23). Bahkan lebih luas lagi, Yusufpun menjadi berkat bagi seluruh rakyat di sebuah Kerajaan, yaitu Mesir (Kejadian 41:35-57). Itulah dampak yang diberikan oleh orang-orang yang menyerahkan tubuhnya sebagai Bait Allah.
Setelah Bait Allah berfungsi dengan benar, maka mujizat terjadi (Matius 21:14). Allah ingin tubuh kita yang adalah BaitNya menjadi ‘Rumah doa bagi segala bangsa’. Melalui tubuh / hidup kita, Allah mau menjangkau bangsa-bangsa. Untuk tujuan ini, Allah menyertai kita dengan mujizat dan tanda-tanda ajaib (Markus 16:20).
Tubuh kita adalah rumah doa bagi segala bangsa. Dalam I Samuel 7:7-14, Samuel berdoa supaya Allah melakukan interfensi (campur tangan) Ilahi, karena bangsa Israel diserang orang-orang Filistin. Dan setelah Samuel berdoa, Tuhan mengguntur dengan bunyi hebat dan mengacaukan bangsa-bangsa Filistin, sehingga mereka terpukul kalah oleh orang Israel (I Samuel 7:10). Selama hidup Samuel, bangsa Israel aman (ayat 13).
Samuel berdoa, mujizat Tuhan dinyatakan; Elia berdoa, hujan tidak turun tiga tahun enam bulan Yakobus 5:17); Yosua berdoa, matahari pun berhenti sampai bangsa Israel memenangkan peperangan. Mereka tahu bagaimana caranya berdoa.
Doa adalah sebuah tindakan yang kita lakukan untuk mengembalikan legalitas Ilahi kembali kepada Allah, sehingga Ia dapat melakukan interfensi Ilahi bagi kepentingan umatNya. Allah sudah memberikan otoritas kepada kita (Lukas 10:19), tapi ada saat-saat tertentu yang kita butuhkan interfensi (campur tangan) Ilahi untuk menyelesaikan suatu masalah. Dengan doa, kita mengembalikan otoritas Ilahi kembali kepada Allah, sehingga Ia dapat melakukan interfensi.
Pada waktu Petrus di penjara, Jemaat dengan tekun mendoakannya dan Allah mengirim malaikatNya untuk melepaskan Petrus dari penjara (Kisah Rasul 12:1-19).

Cara berdoa yang benar :

1. Berdoalah berdasarkan Firman yang engkau terima dari surga

Buat setiap Firman yang engkau terima menjadi suatu keyakinan yang teguh dalam dirimu, dengan cara renungkan Firman, perkatakan Firman, pikirkan Firman yang engkau terima. Perkatakan Firman itu dalam doa-doamu, sebagai suatu pernyataan imanmu / keyakinan imanmu, karena Allah hanya menjawab doa dengan iman, bukan doa yang penuh dengan rintihan dan keluhan. Contohnya : Pada saat engkau sedang lemah jangan engkau berdoa dari kelemahanmu, tapi bangkitlah dan katakan dengan penuh keyakinan dalam doamu bahwa Tuhan adalah kekuatanmu, katakan itu dengan menatap berulang-ulang sampai iman timbul dalam hatimu, maka Tuhan yang memberi iman, Ia akan menjawab imanmu! 

2. Berdoalah dengan posisi rohani yang Tuhan sudah berikan kepadamu.

“Dan segala sesuatu telah diletakkanNya di bawah kaki Kristus dan Dia telah diberikanNya kepada Jemaat sebagai Kepala dari segala yang ada. Jemaat yang adalah tubuhNya, yaitu kepenuhan Dia, yang memenuhi semua dan segala sesuatu” (Efesus 1:22-23).
Segala sesuatu ada di bawah kaki Kristus, dan Kristus adalah Kepala dan Jemaat adalah tubuhNya. Jadi yang menginjak segala sesuatu adalah kaki, dan kaki adalah bagian dari tubuh. Itu berarti yang menginjak segala sesuatu adalah Jemaat, yaitu kita orang-orang percaya!
“Dan di dalam Kristus Yesus Ia telah membangkitkan kita juga dan memberitakan tempat bersama-sama dengan Dia di surga” Efesus 2:6. Ini adalah posisimu di dalam Kristus.
“Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu” (Lukas 10:19). Otoritas sudah Tuhan berikan kepada kita.

Karena itu jika berdoa, berdoalah dengan posisi rohani yang Tuhan sudah berikan. Jika ada iblis yang mengganggumu, perintahkan iblis untuk pergi. Karena iblis dan segala pekerjaannya ada di bawah kakimu. Berdoalah dengan penuh otoritas dan kuasa yang sudah Tuhan berikan kepadamu!

Posted by GBI Kudus On Rabu, Oktober 20, 2010


Baca : Matius 16:13-20

“Lalu Yesus bertanya kepada mereka: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Maka jawab Simon Petrus : “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!”. Kata Yesus kepadanya:”Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan BapaKu yang di sorga. Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaatKu dan alam maut tidak akan menguasainya”. (Matius 16:15-18). Ketika Petrus mengerti dan mengenal siapa Yesus sebenarnya, yaitu Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup, maka Tuhan Yesus berkata bahwa; di atas pewahyuan pengenalan akan Yesus, Ia mendirikan jemaatNya yang alam maut tidak berkuasa. Hal ini menunjukkan bahwa; bila kita dapat memiliki pengenalan akan Yesus dengan benar, maka kita akan menjadi jemaat yang alam maut tidak berkuasa. Jemaat yang alam maut tidak berkuasa disebut sebagai Eklesia. Yang dimaksud dengan alam maut adalah: iblis dan segala pekerjaannya.
Tuhan Yesus menyebut sekelompok orang percaya (jemaat) yang alam maut tidak berkuasa dengan sebutan Eklesia. Pada jaman itu, Roma adalah bangsa yang suka menjajah untuk memperluas daerah kekuasaannya. Setelah tentara Roma berhasil menundukkan suatu daerah jajahan baru, maka Kaisar Roma mengirim orang-orang yang dekat dengannya yang hidup bagi kepentingan Kaisar untuk datang ke daerah jajahan baru guna mengajar dan menanam nilai-nilai Romawi, seperti bagaimana membayar pajak, kebudayaan Roma, menghormati Kaisar dan lain-lain. Orang-orang utusan Kaisar itu disebut Apostolos (Rasul). Setelah Apostolos mengajar di daerah jajahan baru, mereka kemudian memilih beberapa orang di daerah itu yang teruji dan dapat dipercaya untuk menentukan nasib daerah tersebut. Sekelompok orang yang ditunjuk ini disebut Eklesia. Seperti inilah Eklesia yang dimaksud oleh Tuhan Yesus dalam Matius 16:18.

Sifat-sifat EKLESIA:

1. Alam Maut Tidak Berkuasa
“Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaatKu dan alam mau tidak akan menguasainya” (Matius 16:18).
Dengan memiliki pewahyuan pengenalan akan Yesus dengan benar, kita akan memiliki keyakinan yang kokoh dan iman yang teguh terhadap Allah dan FirmanNya. Karena dengan kematian dan kebangkitan Kristus, iblis adalah musuh yang sudah dikalahkan, segala kunci maut dan kerajaan maut telah Yesus pegang (Wahyu 1:18). Dan Dia selalu membawa kita di jalan kemenanganNya, sehingga kita dapat berkata: “Tetapi syukur bagi Allah, yang dalam Kristus selalu membawa kami di jalan kemenanganNya” (II Korintus 2:14a). jika kita memiliki keyakinan yang kokoh akan hal ini, maka alam maut, dosa, setan dan segala pekerjaannya tidak berkuasa atas kita! Alam maut tidak berkuasa atas Eklesia.

2. Penuh Dengan Otoritas
“Kepadamu akan Ku berikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kau ikat di dunia ini akan terikat di surga dan apa yang kau lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga” (Matius 16:19). Ini adalah otoritas yang Tuhan berikan atas Eklesia.
Tuhan Yesus juga berkata dalam Lukas 10:19 “Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu”. Jika kita memiliki keyakinan yang kuat dan iman yang teguh akan janji Tuhan ini, sehingga kita berani melangkah dengan iman di atas janji Tuhan, maka hal inipun akan terjadi dalam hidup kita. Otoritas Kerajaan Sorga, Tuhan berikan atas jemaat yang berfungsi sebagai Eklesia.

3. Menentukan Nasib Generasinya
Seperti yang dimaksud oleh Tuhan Yesus, ketika berbicara dalam Matius 16:13-20, Dia menyebut sekelompok orang percaya yang bangkit dalam kuasa Roh, yang alam maut tidak berkuasa atasnya, Dia menyebutkan dengan sebutan Eklesia. Karena Eklesia pada masa itu adalah sekelompok orang-orang yang dipilih untuk menentukan nasib kotanya/ daerahnya.
“Aku mencari di tengah-tengah mereka seorang yang hendak mendirikan tembok atau yang mempertahankan negeri itu dihadapanKu, supaya jangan Kumusnahkan, tetapi Aku tidak menemuinya” (Yehezkiel 22:30). Tuhan mencari orang-orang percaya yang dapat berfungsi sebagai garam dan terang bagi lingkungannya. Dengan orang-orang percaya yang dapat berfungsi sebagai garam dan terang bagi lingkungannya, mereka dapat menghentikan kemerosotan yang sedang terjadi di lingkungannya dan dapat menerangi kegelapan disekitarnya, sehingga keteraturan ilahi dapat tercipta. Bila keteraturan ilahi tercipta di suatu daerah, maka Allah tidak memusnahkan daerah itu. Allah memusnahkn Sodom dan Gomora, karena Lot dan keluarganya tidak dapat berfungsi sebagai Eklesia (keluarga Lot tidak dapat berfungsi sebagai garam dan terang bagi Sodom dan Gomora). Bahkan Lot pun tidak dapat memenangkan calon menantunya sendiri. Sehingga kemrosotan yang terjadi di Sodom dan Gomora tidak dapat dihentikan, karena itu Allah menghukum Sodom dan Gomora. (Kejadian 18:16 – 19:29). Bangkitnya jemaat yang dapat berfungsi sebagai Eklesia, akan menentukan nasib generasi dan kota serta daerahnya dihadapan Tuhan.
Eklesia, menjadi tanda ajaib bagi lingkungannya. Orang-orang percaya yang bangkit menjadi Eklesia, mereka akan menjadi bau harum dari Kristus di tengah-tengah orang yang diselamatkan atau bau kehidupan yang menghidupkan bagi orang-orang yang diselamatkan. Eklesia juga menjadi bau kematian yang mematikan bagi orang-orang yang binasa (II Korintus 2:15-16). Ini berarti; dengan kehadiran Eklesia, orang berdosa akan menjadi sadar akan dosanya, bila ia bertobat, itu menunjukkan bahwa Eklesia menjadi bau kehidupan yang menghidupkan baginya. Tetapi bila orang berdosa itu memilih untuk tidak bertobat, maka Eklesia menjadi bau kematian yang mematikan baginya, karena orang berdosa itu akan semakin merosot keadaannya.
“Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat” (Kejadian 12:3). Janji ini Allah berikan kepada Abraham yang bangkit menjadi Eklesia. Janji ini pula Allah berikan bagi kita, jika kita juga bangkit berfungsi sebagai Eklesia. Itu yang Tuhan Yesus maksudkan dalam Matius 10:5-15.

Cara Menjadi EKLESIA:
Baca Efesus 1:15-23. Dalam ayat 16-17: “Akupun tidak berhenti mengucap syukur karena kamu. Dan aku selalu mengingat kamu dalam doaku, dan meminta kepada Allah Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Bapa yang mulia itu, supaya Ia memberikan kepadamu Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar”. Ini doa Paulus untuk jemaat Efesus, karena Paulus tahu bahwa: dengan pengenalan yang benar akan Kristus, akan muncul pengharapan, pengharapan yang ada pada ayat 18-23. Yaitu: Kristus dinyatakan dengan segala kepenuhanNya lewat hidup orang-orang percaya. Dengan orang percaya yang hidupnya dapat menyatakan kepenuhan Kristus, mereka akan dapat mengalahkan dosa, setan, penyakit dan alam maut tidak berkuasa atasnya. Mereka adalah Eklesia yang menentukan nasib generasinya.
Jemaat yang seperti inilah yang akan Tuhan bangkitkan di tengah-tengah kita. Bangkitlah dalam kuasa Roh. Bangkitlah menjadi Eklesia!!

MILIKILAH IMANNYA ALLAH

Posted by GBI Kudus On Selasa, Oktober 19, 2010

Kita sebagai orang percaya disebut juga orang beriman. Tapi jika ditelusuri lebih dalam, banyak orang percaya yang tidak beriman, karena iman akan nampak dalam hidup sehari-hari. Mengapa tidak beriman? Jawabannya adalah :

- Karena tidak tahu Firman.

Jalan keluarnya adalah: baca Alkitab dengan tekun, ikut ibadah, ikut Mezbah Keluarga. Catat setiap Firman yang didengar dan baca berulang-ulang, renungkan dan imajinasikan. Seandainya Firman itu tergenapi dalam hidupmu.

- Tahu Firman, tetapi tidak mau taat.

Pada saat kita menerima Firman, pada saat itu kita juga menerima anugerah untuk dapat mentaatinya dan menjadi seperti apa yang diFirmankanNya. Karena dengan Firman, Allah menciptakan segala sesuatu (Kejadian 1). Jika dengan tekun kita mentaati setiap Firman yang kita dengar, maka kita akan dapat mencapai puncak potensi kita di dalam Kristus (Kristus nyata dalam hidup kita). Tapi jika kita sudah tahu kebenaran (yaitu Firman), tapi kita tidak mentaatinya, hal inilah yang akan mendatangkan disiplin Tuhan atas hidup kita (Ibrani 12:1-17).

“Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani. Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: Orang benar akan hidup oleh iman." (Roma 1:16-17). Di ayat 17 disebutkan : ‘yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman’, artinya: pertama kali kita percaya kepada Tuhan Yesus, kita mempunyai iman keselamatan, melalui pertumbuhan kerohanian yang kita miliki, akhirnya kita memiliki imannya Yesus – iman seperti Yesus (Paulus menyebutkan sebagai karunia iman). Iman keselamatan menyadarkan kita akan dosa kita, dan menuntun kita untuk percaya kepada Tuhan Yesus. Iman keselamatan membuat kita: jika mati masuk sorga. Iman keselamatan tidak dapat menciptakan mujizat. Melalui pemahaman kita akan Firman dan pertumbuhan kerohanian kita, kita akan memiliki iman seperti imannya Yesus. Iman yang seperti inilah yang dapat menciptakan mujizat. Dalam Markus 11:22 ditulis: “Yesus menjawab mereka: ‘Percayalah kepada Allah! Dalam terjemahan yang lain disebutkan ‘Milikilah imannya Allah – iman yang dapat memindahkan gunung’ (Markus 11:23). Iman seperti ini diberikan Tuhan kepada orang percaya yang telah menerima babtisan Roh Kudus. Imannya Allah diimpartasikan / diberikan saat roh kita menyala-nyala.
“Orang benar akan hidup oleh iman” (Roma 1:17b). Artinya : kita hidup berdasarkan apa yang kita percayai. Semakin kita memahami Firman, semakin kita percaya ; karena iman sebanding dengan pemahaman kita akan Firman. Jika kita punya iman seperti Yesus, kitapun akan dapat melakukan seperti apa yang pernah Yesus lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar (Yohanes 14:12).
“Dan apakah lagi yang harus aku sebut? Sebab aku akan kekurangan waktu, apabila aku hendak menceriterakan tentang Gideon, Barak, Simson, Yefta, Daud dan Samuel dan para nabi, yang karena iman telah menaklukkan kerajaan-kerajaan, mengamalkan kebenaran, memperoleh apa yang dijanjikan, menutup mulut singa-singa, memadamkan api yang dahsyat. Mereka telah luput dari mata pedang, telah beroleh kekuatan dalam kelemahan, telah menjadi kuat dalam peperangan dan telah memukul mundur pasukan-pasukan tentara asing.” (Ibrani 11:32-34). Perkara-perkara besar yang disebutkan dalam ayat 33 dan 34 itu hanya dapat dilakukan karena iman. Betapa dasyatnya iman.
Hal-hal yang dapat kita peroleh jika kita hidup dalam imannya Allah:

1. Apapun yang kita doakan dan nubuatkan akan terjadi.

Tuhan Yesus waktu berdoa untuk Lazarus, Lazaruspun bangkit. Walaupun sudah empat hari mati (Yohanes 11:1-44). Bahkan Tuhan Yesus dalam doanya berkata : “Aku tahu, bahwa Engkau selalu mendengarkan Aku” (Yohanes 11:42a).
Tuhan Yesus pernah bernubuat untuk Bait Allah: “Kau lihat gedung-gedung yang hebat ini? Tidak satu batupun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain, semuanya akan diruntuhkan." (Markus 13:2). Dan hal itupun digenapi. Pada masa Jendral Titus berkuasa, Bait Allah yang megah itu dihancurkan.

2. Kita akan mengalami pemeliharaan Allah di tengah bencana dan kekacauan.

Orang-orang nazaret menolak Yesus, mereka membawa Dia ke tebing gunung dan hendak melemparkan Dia dari tebing itu, tapi Yesus dapat berjalan di tengah mereka lalu pergi (Lukas 4:28-30).
Berapa kali Tuhan Yesus dicobai dan hendak dibunuh, tapi Dia dapat melewati semuanya itu dengan selamat; karena waktunya belum tiba. Ia belum menyelesaikan tugasNya di bumi. Tapi ketika telah tiba saatnya, Ia pun mati di salib di Golgota, tapi maut tidak dapat menahanNya. Tiga hari kemudian Diapun bangkit.

3. Memampukan kita untuk menerima janji Tuhan yang secara manusiawi tidak dapat kita raih

Walaupun secara manusiawi keadaan fisik Abraham dan istrinya tidak memungkinkan untuk mereka menerima janji Allah, karena Abraham dan istrinya telah lanjut, sehingga tidak memungkinkan mereka menerima janji Allah, yaitu untuk melahirkan anak. “Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah, dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan.” (Roma 4:20-21). Abraham memiliki imannya Allah, karena itu Abraham mengalami keilahian Allah, sehingga tidak ada yang mustahil bagi Abraham dan istrinya yang walaupun telah 90 th usianya, ia dapat melahirkan Ishak.

4. Memberikan kemenangan Ilahi di tengah-tengah peperangan yang kita hadapi.

Yesus berkali-kali dicobai untuk dibunuh, tapi semuanya itu tidak dapat terjadi sebelum tugasNya selesai. Hal inipun akan terjadi bagi kita jika kita memiliki imannya Allah, sehingga kita dapat berkata : “Walau seribu orang rebah di sisimu, dan sepuluh ribu di sebelah kananmu, tetapi itu tidak akan menimpamu. Engkau hanya menontonnya dengan matamu sendiri dan melihat pembalasan terhadap orang-orang fasik.” (Mazmur 91:7-8).

5. Memberi kemampuan kepada kita untuk membereskan masalah yang rumit dalam dunia sosial dan perekonomian.

Karena bangsa Israel jahat di mata Tuhan, maka bangsa Israel menderita kelaparan karena dikepung oleh tentara Aram. Bangsa Israel menghadapi masalah perekonomian yang sulit, sampai-sampai seorang ibu tega membunuh anaknya untuk dimakan. Mendengar hal ini raja marah kepada nabi Elisa, karena ia pikir nabi Elisa yang menyebabkan hal ini terjadi. Tapi nabi Elisa yang memiliki imannya Allah, ia dapat menarik anugerah, dan nabi Elisa berkata bahwa dalam waktu 24 jam akan terjadi kelimpahan di Israel. Dan Allah dengan cara yang ajaib membuat hal itu terjadi (II Raja-raja 6:24 – 7:20). Sehingga nabi Elisa menjadi jawaban bagi bangsa Israel yang sedang mengalami masa yang sulit dalam dunia social dan perekonomian.

6. Hidup yang tercukupi secara supranatural.

Pada saat terjadi kekeringan di Israel, Allah memelihara nabi Elia dengan mengirimnya daging diwaktu pagi dan petang dengan perantaraan burung gagak dan sungai kerit menyediakan air bagi Elia untuk minum. Suatu cara yang ajaib Tuhan lakukan untuk memelihara hambaNya (I Raja-raja 17:1-6).
Hal inipun akan terjadi atas anak-anakNya yang hidup dalam imannya Allah.

7. Iman yang membangkitkan orang mati.

Lazarus yang telah mati 4 hari, dengan berfirman Tuhan Yesus membangkitkan tubuh yang sudah mulai rusak karena sudah 4 hari mati dan Lazaruspun bangkitlah.
Smith Wiggleswoth, seorang hamba Allah, iapun telah membangkitkan lebih dari 30 orang mati.

Milikilah imannya Allah (Markus 11:22). Suatu kepastian batin yang tidak dapat digoyahkan terhadap Allah dan janji-janjiNya. Dan takaran iman kita adalah Firman. “Tetapi Yesus menjawab: "Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” (Matius 4:4). Kita hidup bukan dengan apa yang ada pada kita, tapi kita hidup dari setiap janji yang keluar dari mulutNya Allah.
Cara untuk mendapatkan imannya Allah :

a. Milikilah dinamika roh – roh yang menyala-nyala.
Iman hanya diimpartasikan – diberikan pada saat roh kita menyala-nyala. Pada saat roh kita menyala-nyala, kita dapat menangkap Firman rema. Firman rema ini adalah benih iman.


b. Deklarasikan Firman rema – perkatakan Firman rema
“Tetapi apakah katanya? Ini: "Firman itu dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu." Itulah firman iman, yang kami beritakan. Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan. Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan.” (Roma 10:8-10).
Setelah kita mendapatkan Firman Rema, perkatakan Firman itu. Firman yang kita ucapkan seperti benih dan roh yang menyala-nyala seperti iklim yang cocok yang dapat menyebabkan benih itu tumbuh dan berbuah.