• RSS
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin

Tampilkan postingan dengan label Artikel Sekolah Minggu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Sekolah Minggu. Tampilkan semua postingan

Anak Kecil Pemilik Roti dan Ikan

Posted by GBI Kudus On Minggu, Desember 05, 2010

Kepolosan dan keluguan anak kecil memang luar biasa. Ketika mereka berkata mereka punya cita-cita tinggi, menjadi dokter, pilot dan sebagainya, mereka tidak pernah dipengaruhi oleh logika-logika yang biasanya dimiliki orang dewasa mengenai mungkin dan tidaknya hal itu terjadi. Wajar ketika seorang teman pada suatu ketika tertawa melihat reaksi anak kecil seperti ini dan berkata bahwa mereka belum tahu bagaimana pahitnya hidup sehingga bisa semudah itu bercita-cita. Tapi, justru keluguan anak-anak ini yang diminta Yesus sendiri untuk kita teladani. Kita bisa belajar dari mereka yang belum terkontaminasi berbagai logika dan pikiran manusiawi yang sering kali justru menghambat kita dalam mencapai keberhasilan.

Pada peristiwa Yesus menggandakan lima roti dan dua ikan untuk memberi makan lima ribu pria -- jumlah tersebut belum termasuk wanita dan anak-anak bahkan menyisakan dua belas bakul penuh roti dan ikan -- kita melihat bagaimana Tuhan bisa memakai sesuatu yang mungkin tidak berarti besar bagi kita untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan besar. Dari mana roti dan ikan itu berasal? Dalam Injil Markus memang tidak disebutkan dari mana asalnya. Namun Injil Yohanes menuliskan dari mana ikan itu berasal, yaitu dari seorang anak kecil.

Mari kita lihat kronologi peristiwa itu yang tercatat dari versi pengamatan Yohanes. Pada saat itu Yesus menanyakan kepada Filipus bagaimana memberi makanan untuk seluruh orang yang berkumpul mendengar pengajaran Yesus. "Jawab Filipus kepada-Nya: "Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja." (Yohanes 6:7) Filipus satu dari murid Yesus yang hadir di sana melihat kemustahilan untuk bisa memberi makan demikian banyak orang dengan uang yang mereka miliki sesuai dengan logika manusianya. Lalu, di antara murid-murid itu, seorang murid lain bernama Andreas, saudara simon Petrus ternyata bergerak melihat sekelilingnya, dan ia mendapatkan seorang anak yang memiliki bekal lima roti dan dua ikan. Maka ia pun berkata "Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?" (Yohanes 6:9) Andreas mencari dan melihat bahwa ada lima roti dan dua ikan yang dimiliki oleh seorang anak kecil. Tapi mana mungkin itu cukup? Andreas pesimis dengan apa yang ia dapatkan. Bagaimana reaksi anak kecil itu sendiri? Dari apa yang kita baca selanjutnya, kita tidak mendapati penolakan dari si anak. Tampaknya anak kecil itu dengan sukarela memberikan apa yang ia miliki. Lalu Yesus pun mengucap syukur atas roti dan ikan, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang. Luar biasa, jumlah bekal yang kecil itu cukup untuk mengenyangkan semua orang di sana bahkan berlebih. Anak kecil itu tidak pernah kita ketahui namanya. Kita tidak tahu siapa dia. Tapi meski demikian, ia tercatat dalam Alkitab yang masih bisa kita baca sampai hari ini. Semua berawal dari kerelaannya untuk memberi.

Kita bisa belajar dari reaksi si anak. Jelas, bahwa apa yang ia miliki secara kemampuan daya pikir kita tidak akan cukup untuk memberi makan 5000 orang lebih. Tapi, ia tidak menolak sama sekali. Meski ketika Andreas menyatakan keraguannya akan jumlah yang sedikit itu. Si anak kecil tidak menjadi pesimis waktu apa yang ia miliki disepelekan Andreas. Ia bisa saja berkata, "Ya sudah, kalau memang tidak cukup, saya makan sendiri saja, ini kan punya saya." Anak kecil itu bisa menolak, apalagi ketika apa yang ia miliki tidak dihargai sepenuhnya oleh Andreas. Tapi tidak, ia tidak melakukan hal itu. Si anak juga bisa saja berkata, "Yesus, jika Engkau memang benar Tuhan, kenapa tidak turunkan saja makanan dari langit? Kenapa harus mengambil bekalku?" Tapi itu pun tidak ia lakukan. Apa yang ia lakukan adalah dengan sukarela, tanpa banyak tanya, tanpa protes sedikit pun, memberikan seluruh bekalnya kepada Yesus. Apa yang ia miliki, meski hanya sedikit, ditambah kerelaannya untuk menyerahkan itu semua kepada Tuhan akhirnya bisa memberkati banyak orang secara luar biasa.

Yesus selalu meminta kita untuk belajar dari anak kecil. Jangan pernah sepelekan mereka, tapi belajarlah dari iman mereka yang polos dan tulus, tanpa pretensi apa-apa, tanpa mengharapkan imbalan dan lainnya. Demikian firman Tuhan: "Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di sorga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di sorga." (Matius 18:10). Sikap iman seperti anak-anak kecil inilah yang berkenan di hadapan Tuhan. Tuhan Yesus juga berkata "Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya." (Markus 10:15). Ini berbicara mengenai kepolosan dan ketulusan seorang anak kecil yang tidak dipengaruhi oleh keraguan, kecurigaan, ketidakpercayaan atau bentuk-bentuk pikiran lainnya. Di samping itu, kita pun melihat bahwa anak kecil itu tidak meminta penghargaan apa pun atas pemberiannya. Ia bisa saja sombong bahwa semua mukjizat itu sebenarnya berawal dari miliknya, tapi ia pun tidak melakukan itu. Dia tidak berpikir untuk bermegah dan mencuri kemuliaan yang menjadi milik Tuhan. Maka mengenai sikap seperti ini kelak Yesus mengatakan "Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga." (Matius 18:4). Seperti itu pula hendaknya kita seharusnya dalam menyambut Kerajaan Allah. Kita harus menyelidiki dan memeriksa apa talenta kita yang telah dianugerahkan Tuhan, mengucap syukurlah atas itu dan serahkan ke dalam tangan Tuhan dengan kepercayaan penuh. Maka Tuhan pun mampu memakai itu semua untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan besar.

Tidak perlu malu untuk belajar dari anak kecil. Ketika kita orang dewasa sudah terkontaminasi oleh berbagai hal yang bisa melemahkan iman kita, mari berkaca kepada kepolosan anak-anak kecil yang belum terpengaruh oleh itu semua. Iman yang polos dan murni, iman yang tidak terguncang oleh apa pun, iman yang percaya sepenuhnya tanpa keraguan dan pertanyaan, itulah yang diinginkan Tuhan untuk dimiliki anak-anakNya. Jangan sedikit pun meragukan kemampuan Tuhan, jangan sedikit pun merasa bahwa kita tidak cukup banyak dibekali Tuhan untuk sukses. Jangan memiliki sikap rendah diri dan merasa milik kita tidak berharga, tidak akan bermanfaat, dan tidak akan cukup untuk bisa berbuat sesuatu. Ingatlah bahwa Tuhan bisa memakai apa pun yang ada pada kita, meski bagi kita terlihat kecil sekalipun, untuk melakukan karya-Nya yang besar jika kita menyerahkan itu semua ke dalam tanganNya. Bagaimana iman kita, bagaimana kerelaan kita, bagaimana sikap kita dalam mempersembahkan milik kita, itulah yang menyenangkan hati Tuhan dan akan dipakai-Nya secara luar biasa.

Diambil dari : e-BinaAnak, 29 September 2010, Volume 2010, No. 502

Pembinaan yang Holistik Untuk Menjawab Kebutuhan Rohani Anak

Posted by GBI Kudus On Jumat, November 19, 2010

Ada dua hal yang sangat penting dan mendasar bagi guru sekolah minggu dalam melayani anak-anak, guna memenuhi kebutuhan rohani mereka.
1. Arah Pembinaan Anak: Pembinaan Anak yang Holistik
Apa maksud dari pembinaan anak yang holistik? Yang dimaksud dengan holistik adalah anak dibina secara menyeluruh. Pembinaan ini meliputi keseluruhan aspek kebutuhan dan pergumulan hidup anak setiap hari (sehari-hari).
Pada saat ini, banyak sekolah minggu yang hanya berpikir tugasnya adalah membina anak untuk soal-soal rohani (dalam arti sempit), misalnya:
  • bercerita tentang Tuhan Yesus dan ajaran-ajaran Alkitab,
  • mengajarkan cerita Alkitab dan menghafat ayat-ayat tertentu,
  • mendorong anak untuk berdoa,
  • mengajarkan lagu-lagu pujian agar anak suka memuji Tuhan,
  • mendorong anak rajin ke sekolah minggu,
  • dan sebagainya (yang biasa kita temui dalam kegiatan sekolah minggu pada umumnya).
Jadi, pembinaan rohani seolah-olah hanya berkutat seputar Alkitab, pujian, doa, dogma (ajaran gereja), dan tampaknya hanya itu-itu saja yang dibicarakan oleh para guru di kelas. Misalnya: jangan nakal, rajin berdoa, rajin ke sekolah minggu, dan seterusnya. Semuanya begitu klise (atau membosankan). Padahal seluruh aspek hidup anak membutuhkan kehadiran Yesus juga. Misalnya, saat ia merasa kesepian di rumah, saat ia takut tidur sendiri di rumah, saat ditinggal orang tuanya pergi, saat selalu dipersalahkan orang tuanya, saat jenuh belajar, dan sebagainya. Begitu kompleksnya pergumulan anak sebagai seorang manusia yang masih kecil. Yesus yang diceritakan oleh guru sekolah minggunya seharusnya menjadi Yesus yang menjawab semua pergumulannya, mengerti suka-dukanya, menjawab semua kebutuhannya, dan Yesus yang memimpin hidupnya dengan semua kompleksitas permasalahan hidup manusia.
Jadi, pembinaan anak yang holistik memandang pembinaan iman anak dalam pengertian yang luas. Tidak terbatas apa yang biasa dilakukan anak di sekolah minggu, namun terutama berkaitan dengan pergumulan anak dalam kehidupannya sehari-hari. Dengan konsep ini, anak diajak menyadari bahwa Tuhan Yesus adalah Juru Selamatnya yang selalu hadir dalam kehidupannya setiap hari.
Pengetahuan Alkitab memang penting diajarkan, namun Alkitab kali ini diajarkan bukan terbatas sebagai buku yang harus dipahami (atau dihafal atau menjadi dogma), melainkan Alkitab yang menerangi hidup sehari-hari anak. Pembinaan anak semacam ini bukan terutama untuk mencerdaskan anak atau agar anak menghafal isi ayat atau isi Alkitab, melainkan untuk mengembangkan kepribadian dan moralitas anak dalam terang iman kepada Tuhan Yesus Kristus. Sehingga setiap hari dari bangun tidur sampai tidur lagi, anak menjadi pelaku firman yang hidup. Setiap hari anak menjadi sahabat Yesus yang hidup! Dengan demikian, guru tidak hanya mengajarkan hal-hal yang klise, namun guru juga mengajarkan:
  • budi pekerti dan moralitas anak dalam hidup sehari-hari, yang tercermin dalam tingkah laku anak yang diterangi oleh imannya,
  • sopan santun saat berbicara dengan orang yang lebih tua,
  • sopan santun dan perhatian kepada mereka yang lebih muda,
  • pendidikan seks dalam terang firman bagi anak-anak,
  • pentingnya studi dan memiliki keahlian khusus agar dapat menjadi berkat bagi masyarakat. Guru perlu menekankan betapa pentingnya menjadi seorang yang ahli dalam bidang tertentu,
  • hidup Kristen yang tidak individualistis (yang hanya mementingkan diri sendiri, egois), tetapi para guru diharapkan mengajak para murid untuk memahami bahwa sesama adalah berkat Tuhan bagi kita untuk kita kasihi,
  • agar anak tidak materialistis dan terjebak dalam konsumerisme akibat iklan media massa yang sangat menarik. Anak diajarkan untuk kritis,
  • untuk kritis terhadap pengaruh buruk dari beberapa film anak, iklan-iklan televisi atau media massa dan bacaan. Anak dapat bersikap secara kritis karena diterangi oleh imannya,
  • menjadi warga negara yang baik, yang tahu menempatkan diri dengan tepat dalam situasi Indonesia yang begitu heterogen. Sehingga dalam kebhinekaan masyarakat yang plural ini, anak dapat bersikap dengan tepat dan bijaksana,
  • agar anak tidak mengikuti budaya buruk korupsi, kolusi, dan nepotisme yang sedang diperangi oleh setiap warga bangsa Indonesia,
  • memahami arti penting hidup berpolitik dalam terang iman Kristen. Bukan politik praktis, melainkan sebagai warga negara yang baik, anak diajak untuk terlibat memikirkan dan mendoakan pergumulan bangsanya.
Puncak pembinaan holistik adalah agar anak menjadi seperti Yesus. Bukan hanya memiliki iman yang begitu kuat seperti Yesus, melainkan juga bermasyarakat dengan baik dan dewasa, serta mengasihi semua sesamanya dalam berbagai perbedaan yang dimiliki. Tujuan akhir pembinaan holistik ini ialah untuk menjadi seperti Yesus yang begitu dewasa dalam iman, pola pikir, kepribadian, dan sikap.
Pembinaan yang bersifat holistik ini tidak akan membentuk anak menjadi seragam. Pembinaan ini dibentuk dengan memikirkan kekhasan bakat, talenta, dan kemampuan anak. Pembinaan ini begitu kreatif karena mengembangkan semua potensi anak. Karena itulah, pembinaan yang holistik sangat memerhatikan dunia anak, bahasa anak, perkembangan kemampuan anak, dan kebutuhan anak dengan segala aspek kehidupannya.
2. Metode Pembinaan Anak yang Aktif Kreatif
Agar arah tujuan pembinaan holistik itu tercapai, perlu dipikirkan metode yang tepat, yaitu metode pembinaan anak yang aktif (dan kreatif). Maksud dari metode pembinaan anak aktif adalah metode pembinaan yang berpusat pada anak, yang mengajak anak aktif terlibat dan bertumbuh dalam proses pembinaan. Jadi, tidak hanya guru saja yang aktif dalam proses pembinaan dan anak menjadi pendengar pasif, tetapi anak justru menjadi subjek yang aktif di kelas. Anak diharapkan bersuara atau berpendapat, berdiskusi, mengeluarkan pikiran, gagasannya, dan pengalamannya, serta menemukan "pesan firman Tuhan" yang dibicarakan di kelas. Karena itulah, metode anak aktif merupakan cara dan teknik kreatif agar anak-anak tidak pasif di kelas.
Grafik Efektivitas
A. Guru dan murid pasif (kurang aktif).
  1. Guru menggunakan alat peraga, namun murid pasif (murid hanya melihat dan mendengar).
  2. Guru menggunakan alat peraga dan murid-murid memberikan respons dengan kata-kata. Metode ini sudah mendekati metode anak aktif, namun belum maksimal.
  3. Guru dan murid sama-sama aktif. Guru menggunakan metode anak aktif sehingga para murid terlibat aktif dalam pengajaran, baik dalam kata-kata maupun dalam gerakan dan tindakan.
Guru tidak bisa hanya menggunakan metode abstrak (hanya dengan kata-kata saja tanpa aktivitas atau tanpa alat peraga). Guru harus menggunakan semua hal yang mungkin (aktivitas, alat peraga, permainan, simulasi, dan lain-lain) untuk mengaktifkan anak agar terlibat dalam proses pembinaan ini.
Dengan demikian, harus dipikirkan juga bagaimana agar firman Allah dapat disampaikan kepada anak-anak dalam bentuk yang kreatif. Anak-anak diharapkan dapat memahami makna pesan firman Tuhan, yang dapat menjawab kebutuhan pergumulan mereka sehari-hari. Oleh karena itu, metode ini menuntut guru untuk berani aktif kreatif dalam berbagai hal, seperti:
  • mengkreasi kegiatan atau acara sekolah minggu,
  • mengkreasi puji-pujian,
  • menyampaikan cerita,
  • mengajarkan dan memimpin berdoa,
  • membawa anak mencintai dan menghayati firman Tuhan,
  • menciptakan aktivitas yang menarik,
  • dan sebagainya.
Diambil dan diringkas dari: e-BinaAnak, 12 August 2010, Volume 2010, No. 495