• RSS
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin

Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan

Banyak Keringat, Tanda Kelainan Jantung?

Posted by GBI Kudus On Jumat, November 19, 2010

Sering, kita jumpai anak yang kepala atau telapak tangannya selalu berkeringat. Sampai-sampai si anak mengadu pada orang tuanya dengan kesal karena setiap kali menulis atau memegang sesuatu, telapak tangannya berkeringat. Habis dilap, keringat akan mengucur kembali.Bahkan, ada anak yang tetap berkeringat meski berada di ruangan ber-AC.

Nah, kebanyakan orang tua lantas menjadi cemas, "Jangan-jangan anak saya terkena penyakit jantung." Bukankah salah satu gejala penyakit jantung adalah penderita mengeluarkan banyak keringat?

Disertai gejala lain

Memang, seperti diakui Dr. Najib Advani, Sp.AK, MMed. Paed.,  keluarnya banyak keringat bisa merupakan gejala penyakit kronis, seperti TBC, Malaria, atau gagal jantung. "Tapi jangan dibalik, lo. Bukan banyak keringat yang mengakibatkan penyakit jantung, misalnya," tukas spesialis anak Konsultan Ahli Jantung Anak Bagian Kesehatan Anak FKUI-RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta ini.

Keluarnya banyak keringat juga bisa ditemukan pada anak yang memang punya kecenderungan untuk alergi (atopi). Selain itu, tumor pada kelenjar adrenalin juga bisa menyebabkan banyaknya keringat yang keluar. "Tapi ini biasanya disertai dengan gelisah dan tekanan darah tinggi," tutur Najib. Anak dengan obesitas juga sering banyak mengeluarkan keringat, "karena lapisan lemaknya tebal, sehingga ia merasa panas terus," lanjutnya.

Penghentian pemakaian obat-obat tertentu, seperti obat penenang, juga bisa membuat anak berkeringat. "Kalau pemberian obat dihentikan, anak jadi gelisah. Akibatnya, keringat bercucuran." Kondisi lain, karena hipoglikemi (kadar gula darah dalam tubuh menurun), kondisi hipertiroid (kelebihan hormon tiroid), kekurangan vitamin B6, atau karena intoksikasi (keracunan) salisilat. "Salisilat adalah salah satu obat penurun panas. Jika dosis yang diberikan berlebih akan membuat anak banyak berkeringat."

Dengan demikian, kita patut curiga bila si kecil mengeluarkan banyak keringat disertai gejala-gejala lain, atau sebelumnya tak pernah berkeringat dan tiba-tiba di usia 2 tahun ia mengeluarkan banyak keringat dibarengi gejala-gejala lain.

Misalnya, anak banyak berkeringat dibarengi sesak napas, mungkin merupakan penyakit jantung. Atau, bayi yang enggak kuat menyusu; saat menyusu sebentar-sebentar berhenti dan berkeringat. "Kita harus curiga dan segera membawanya ke dokter untuk evaluasi lebih lanjut," tukas Najib.

Kondisi yang normal

Itu sebabnya para orangtua jangan keburu cemas dulu, apalagi sampai panik bila si kecil mengeluarkan banyak keringat. Kalau memang tak ada gejala lain yang menyertainya, berarti banyaknya keringat yang dikeluarkan merupakan kondisi normal yang sering dijumpai pada anak. Terlebih lagi, kata Najib, pada kebanyakan kasus, banyaknya keringat yang keluar bukan lantaran penyakit atau kelainan tertentu. "Bisa saja memang bawaan anak begitu, sejak bayi memang sudah banyak atau gampang berkeringat."

Ada beberapa kondisi yang bisa membuat anak banyak berkeringat. Diantaranya, emosi. Misalnya, stres. "Ini bisa menyebabkan keringat yang keluar bertambah." terang Najib. Kondisi lain, mungkin pakaian yang dikenakannya terlalu tebal. Apalagi bila gerakan-gerakan fisiknya juga bisa membuat ia gampang berkeringat. "Anak yang sedang demam atau baru sembuh dari demam pun akan mudah berkeringat," tambah Najib.

Disamping itu, suhu lingkungan yang tinggi. Bukankah jika suhu lingkungan tinggi, maka suhu tubuh pun akan terpengaruh? Sehingga, secara mekanisme alamiah, keluarlah keringat. Jadi, normal, kan? Justru dengan keluarnya keringat, suhu tubuh akan turun. Badan pun jadi dingin karena keringat yang keluar akan menguap dan mengambil panas dari kulit.

Makanan yang berbumbu, seperti lada atau cabe, juga akan semakin merangsang pengeluaran keringat. Enggak usah pada anak, kita saja yang dewasa jika mengkonsumsi makanan dengan kandungan lada atau cabe juga akan berkeringat lebih banyak dari biasanya. Iya, kan?

Yang perlu diperhatikan justru mengurangi faktor-faktor pencetus banyaknya pengeluaran keringat. Misalnya, kalau sudah tahu si anak lebih mudah berkeringat, ya, jangan memakaikan baju tebal-tebal di siang hari bolong. Apalagi saat anaknya sedang beraktivitas di luar rumah. "Sebaiknya gunakan bahan yang menyerap keringat." Kemudian, hindari makanan pencetus, seperti yang mengandung lada dan cabe.

Pada anak obesitas, dianjurkan untuk mengurangi berat badan atau paling tidak pertambahan berat badannya dikurangi. Misalnya, diet; banyak makan sayur dan buah-buahan, hindari makanan yang berlemak dan berkabohidrat tinggi. 
 
(health.kompas.com)

Hati-hati…Ada Varian Baru DBD : Virus Metropolis Demam Berdarah

Posted by GBI Kudus On Jumat, November 05, 2010

Varian baru dari demam berdarah (DBD) telah muncul?? Suatu hal yang tidak kita inginkan, akan tetapi kelihatannya sudah muncul. Hal ini disampaikan oleh Prof Dr. Soegeng Soegijanto, SpA (K). sebagai berikut :
TEMPO Interaktif, Surabaya- Hati-hati dan waspadai gejala demam berdarah jika ada anggota keluarga yang terkena. Sebab, saat ini ada varian virus baru penyakit ini. Apalagi jika Anda sering berpindah dari satu kota ke kota lain.
Ahli penyakit tropis dari RSUD Dr. Soetomo, Surabaya, Prof Dr. Soegeng Soegijanto, SpA (K), menuturkan dari penelitian yang dilakukan Institute of Tropical Disease Universitas Airlangga, Surabaya, varian baru virus demam berdarah ini lebih ganas.
Kata dia, penelitian yang dilakukan sejak 2004 itu dilakukan dengan mengumpulkan seluruh virus Demam Berdarah yang ada di kota-kota besar. Mulai dari Jakarta, Surabaya, Solo, Yogjakarta, Semarang, Malang, Manado, Medan serta beberapa daerah lainnya di Indonesia.
Hasilnya, kata dia, virus DB yang menyerang orang-orang di kota besar ternyata berbeda-beda. Apalagi, kata dia, kalau penderita memiliki pengalaman pergi keluar negeri seperti Jepang atau Amerika. Virus DB yang menyerangnya pun juga berbeda dengan orang yang tidak pernah ke luar negeri. “Virus ini kemudian kami sepakati dengan nama virus metropolis,” kata Soegijanto, Selasa kemarin.
Menurut dia, gejala virus DB Metropolis ini sangat unik. Penderita, kata dia, bisa saja tidak menderita panas tapi kadang juga panasnya naik turun dua sampai tiga hari dengan trombosit yang tinggi. Namun, tiba-tiba trombositnya bisa langsung turun seketika. “Gejala ini hampir tidak bisa diprediksi dokter biasa.”
Karennya, ia menghimbau para dokter bisa melakukan pemeriksaan pasien dengan lebih teliti. “Kalau perlu segera lakukan pemeriksaan darah jangan sampai virus ini menyerang hati,” ujarnya. “Dokter harus waspada dengan memantau keadaan pasien selama 24 jam.”
Di RSUD Dr Soetomo sendiri, kata dia, sudah sering menerima pasien demam berdarah jenis ini. “Biasanya pasien rujukan,” ujarnya.
Menurut dia, biasanya mereka yang datang biasanya langsung kita pantau dan turunkan dokter selama 24 jam.

Sumber : http://www.tempointeraktif.com